Moeflich Hasbullah: Antologi Pemikiran

Buku Sejarah Sosial Intelektual Islam Indonesia

leave a comment »

Penulis: Moeflich Hasbullah 
Penerbit Pustaka Setia, April 2012, 392 hal.
Pengantar: Dr. Yudi Latif.
Harga Rp. 50.000.

*

Buku ini adalah sebuah kajian tentang Islam Indonesia dengan penghampiran dari berbagai sisi: sejarah, sosial, politik, psikologis dan budaya. Dengan melihat pengalaman sejarahnya yang khas, buku ini dimaksudkan untuk memahami sosok dan wajah Islam Indonesia yang berbeda dari kawasan-kawasan lain di dunia Islam. Tulisan-tulisan didalamnya berupaya mendiskusikan beberapa tema tentang Islam Indonesia dalam ragam persoalan dan perspektifnya. Karenanya, pembahasan buku ini bersifat tematis.

Sebagai kajian tematis, tulisan-tulisan dalam buku ini variatif. Beberapa tulisan bersifat deskriptif dan informatif, sebagiannya merupakan gagasan orisinal dan sebagian yang lain berusaha mengkritisi persoalan-persoalan yang menjadi public discourse dalam Islam Indonesia seperti tentang proses Islamisasi, peranan ulama dalam sejarah, kelas menengah Muslim, sekularisasi, pluralisme, terorisme, Islam liberal, pornografi dan lain-lain dengan satu tema inti: Islam Indonesia. Mudah-mudahan perspektif dalam buku ini bisa diterima sebagai sesuatu yang absah dan, dan lebih dari itu, diharapkan mewakili pandangan yang tidak ditemukan pada tulisan-tulisan lain yang berserakan dalam samudera diskursus Islam Indonesia. Read the rest of this entry »

Written by Moeflich

14/05/2012 at 4:19 pm

Posted in My books

Agama Sikap Mental

leave a comment »

Oleh Moeflich Hasbullah
Opini Tribun Jabar, 7 April 2011

a

Dalam kehidupan manusia, tidak ada agama murni, yang ada adalah agama sifat. Dalam fikiran manusia, tidak ada Islam, Kristen, Hindu, Budha yang asli, yang ada adalah agama yang sudah mengalami penyifatan: Islam tradisional, Islam modern, Kristen Katolik, Kristen Protestan, Budha Mahayana, Hindu Bali dan seterusnya. Ortodoksi menjadi sifat ketika sekelompok orang mengklaim dirinya Islam Al-Qur’an dan Sunah. Demikian juga dengan Islam penjaga warisan ulama. Organisasi dan madzhab menjadi sifat ketika sudah menjadi identitas dan simbol-simbol kelompok. Ketika agama ditempeli sifat-sifat, saat itu agama menjadi distorsi karena berubah menjadi ekspresi Read the rest of this entry »

Written by Moeflich

19/08/2011 at 12:41 pm

Posted in Refleksi

Api Sejarah dan Spirit Pelurusan Sejarah Indonesia

leave a comment »

Moeflich Hasbullah
Presentasi pada Diskusi Buku Api Sejarah-2 karya Ahmad Mansur Suryanegara
di Selasar Campus Center Barat ITB, 11 Ramadhan 1432/11 Agustus 2011.

a

Sebagai warisan dari konflik-konflik politik yang berlangsung sejak zaman kolonial, Islam Indonesia adalah sebuah entitas umat yang selalu berhadapan dengan kekuatan negara. Negara kolonial mempertahankan kekuasaan koloninya dengan berusaha meminimalisir pengaruh kekuatan Islam, sementara Islam sendiri menjadi “pembangkang birokrasi” dan inspirasi untuk melakukan perlawanan. Tradisi ini berlanjut hingga zaman Orde Baru yaitu saat pemerintahan Soeharto menempatkan diri sebagai negara yang memusuhi Islam. Perseteruan ini berimbas pada sejarah. Negara ingin menuliskan sejarah Indonesia berdasarkan versinya sendiri dengan perasaan sama dengan kaum kolonial: meminimalisir peranan Islam dan lebih menonjolkan peranannya sendirinya (Jawanisme abangan). Kalangan Islam menuntut sejarah ditulis apa adanya (history as it is) sesuai fakta yang ditemukam. Ketika sejarah bangsa ditulis dengan tidak diamini umat Islam, polemik sejarah pun terjadi. Muncullah istilah ‘sejarawan istana’ sebagai sebutan pada sejarawan yang menulis untuk kepentingan penguasa. Dalam banyak episode, sejarah Islam Indonesia tidak ditulis penuh rekayasa, mengalami distorsi dan pembelokkan. Sejak tahun 1960-an, sudah muncul gugatan-gugatan terhadap sejarah Indonesia dari beberapa kalangan, yang paling kuat muncul dari kalangan Muslim. Beberapa episode sejarah Islam yang dipersoalkan itu misalnya sejarah masuknya Islam ke Indonesia,[1] peranan etnis Cina dalam Islamisasi,[2] gerakan awal kebangkitan nasional,[3] peranan Islam (ulama) dalam kemerdekaan, kolonialisasi (Eropa-sentris) dalam penulisan sejarah,[4] deislamisasi dan hinduisasi kebudayaan Indonesia.[5] Read the rest of this entry »

Written by Moeflich

16/08/2011 at 2:05 pm

Rumus 3D dalam Menyembuhkan Penderitaan Jiwa

leave a comment »

Moeflich Hasbullah

a

Penderitaan jiwa, berat maupun ringan, sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia di zaman modern ini. Sadar atau tak sadar, banyak orang merasakan penderitaan dan rintihan dalam batinnya. Terhibur dalam keramaian tapi gelisah dalam kesendirian, menjerit dalam kesunyian, menemukan orang yang tepat untuk curhat sulit, orang tua tidak mengerti. Problem ini dirasakan termasuk oleh orang-orang yang taat menjalankan kehidupan ritual agamanya sehari-hari. Dalam keramaian seperti tak ada masalah, ceria, riang dan gembira, tapi dalam kesendirian dan kesunyian, batinnya menjerit karena masalah tak hilang-hilang, beban perasaan terasa berat, stres oleh pekerjaan yang menumpuk, jodoh tak kunjung datang, uang dan materi berlimpah tapi tak ada ketenangan hidup, makanan banyak tapi tak ada kenikmatan dst. Akhirnya, tak betah di rumah, asing dengan diri sendiri, hidup merasa tak bermakna. Kebahagiaan tidak tahu entah ada dimana. Read the rest of this entry »

Written by Moeflich

30/01/2011 at 4:50 pm

Posted in Refleksi, Spiritualitas

Praktek Korupsi: Wilayah, Prevensi, Eksekusi

leave a comment »

Endang Somalia dan Moeflich Hasbullah
Pikiran Rakyat, 8 Januari 2011

a

Perilaku korupsi sudah mendarah daging dalam tubuh bangsa Indonesia sejak bangsa ini mengalami kemerdekaannya dan lepas dari cekraman kolonialisme. Korupsi telah menjadi penyakit yang menggerogoti dan menghancurkan bangsa ini selama setengah abad lebih. Puncaknya adalah masa pemerintahan Orde Baru. Melalui mekanisme kekuasaan, korupsi disemaikan, ditumbuhsuburkan dan dikulturkan dalam berbagai bidang kehidupan sampai akhirnya menjadi mentalitas bangsa yang kemudian meruntuhkan rezim Orde Baru itu sendiri. Korupsi nyaris sempurna terjadi pada setiap lapisan dan kelompok sosial di Indonesia. Inilah yang membuat korupsi di negeri ini sulit diberantas. Read the rest of this entry »

Written by Moeflich

22/01/2011 at 5:59 pm

Posted in Korupsi

Korupsi sebagai Kelemahan Jiwa

leave a comment »

Moeflich Hasbullah
Republika, 12 Juli 2010

a

Munculnya era Reformasi yang menjanjikan perubahan dalam berbagai aspek kehidupan ternyata tidak banyak mewujudkan harapan, terutama dalam hal mengatasi penyakit yang paling kronis diidap bangsa Indonesia, yaitu korupsi. Ketimbang memberantas dan berkurang, era Reformasi malah membuka selubung-selubung mafia korupsi yang parah. Lebih parah lagi, bila zaman Orde Baru korupsi dilakukan oleh penguasa sentral, korupsi pada era Reformasi dilakukan oleh mafia para pejabat antar departemen. Korupsi sudah mendarah daging dalam tubuh bangsa Indonesia di berbagai lapisan sosial. Mulai dari pejabat tinggi di institusi-institusi negara, pengusaha dalam gerak bisnisnya, hingga rakyat kecil pada kehidupan sehari-hari. Pejabat negara, individu, atau mafia menilap uang rakyat di tingkat negara dengan menyelewengkan aturan dan jabatan atau melakukan mark up dan laporan untuk kepentingan diri serta mafianya. Read the rest of this entry »

Written by Moeflich

22/01/2011 at 5:55 pm

Posted in Korupsi

Cultural Islam: The Politics of the Indonesian Muslim Middle Class

leave a comment »

Moeflich Hasbullah
(MIMBAR STUDI, Jurnal Ilmu Agama Islam,
No. 1, Th. XXIII, September-Desember 1999)

a

a
The rise of the santri middle class in the 1980s has been accompanied by a shift in political orientation within the Muslim community from ‘political Islam’ to so-called ‘cultural Islam.’ ‘Political Islam’ refers to a political orientation that still characterises what Anwar terms the ‘kelas menengah santri lama’ (the old santri middle class), that is the Muslim ‘middle class’ in the period of Soekarno’s regime. In the New Order’s time, this class lost popular support both economically and politically. In the period of politik aliran in the 1950s and 1960s, when political parties were based on ‘primordial foundations,’ the economic bases of the old santri middle class were embedded in local businesses, petty bourgeoisie, and land-owners. However, since the New Order established the free market economy in the 1970s, huge foreign investment had almost totally destroyed the santri-based economic activities as happened to local industries in Solo, Pekalongan, Majalaya, Majalengka, and Kudus which in the 1950s were part of the established network of local santri businesses (Anwar 1995). Meanwhile, the private sector was dominated by a few Chinese groups and client businessmen with connections to the New Order elite. When the old santri businesses went bankrupt, they lost their political patrons and had no more access to the New Order bureaucracy. Eventually, many of them shifted their activities by moving into Islamic proselytisation movements affiliated with organisations such as Muhammadiyah and N.U. This was accompanied by “the explicit recognition that Islamisation was itself a form of politics” (Hefner 1995: 81). Read the rest of this entry »

Written by Moeflich

22/01/2011 at 5:03 pm

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.