Moeflich Hasbullah: Antologi Pemikiran

Seni sebagai Ekspresi Spiritualitas

leave a comment »

Moeflich Hasbullah
Lampung Post, 22 Mei 1992

a

a

Dalam sebuah kesempatan, seorang ulama bijak yang dikenal luas yaitu Buya Hamka (alm.) konon dihadapkan pada pertanyaan ‘nakal’ seorang pemuda jama’ah pengajiannya: “Buya, bolehkan seseorang memandang gambar atau foto tubuh wanita bugil, semata-mata hanya untuk mentafakkuri kebesaran dan keagungan Tuhan yang ada pada indahnya tubuh wanita tersebut?” Sambil merenung sekilas, karena pertanyaannya diluar dugaan, Buya berfikir. Tak lama ia menjawab: “Boleh.” “Tapi,” segera beliau menegaskan, “semata-semata hanya untuk tujuan itu, tidak lain dari maksud itu. Awas, tidak lain dari itu.” Jawaban seperti Buya tak akan pernah keluar bila beliau tidak mempelajari tasawuf. Apa hubungannya? Sebab dalam tasawuf tidak ada batasan, segala sesuatu bisa menjadi obyek dzikir. Pertanyaan pemuda tersebut menuntut jawaban hakikat bukan syariat (hukum, norma) dan hakikat adalah wilayah atau dunianya tasawuf. Norma atau syariat akan tegas-tegas melarang perbuatan itu sebagai perbuatan haram karena memandangi aurat. Norma tidak berurusan dengan sesuatu di luar formalitas bahwa di luar norma ada jalan menuju Tuhan. Esensi bugilitas tubuh wanita yang ditanyakan adalah keindahan. Nilai keindahan harus dibahas oleh estetika bukan hukum.

Tapi, tentu estetika tidak bisa lepas dari norma/hukum. Norma harus meng-guide atau mengontrol estetika, tapi seringkali ini adalah persoalan rumit yang tak kunjung usai karena hubungan dan batasan antara norma dan estetika sering tidak sederhana. Norma atau hukum tidak bisa sederhana dalam menerapkan definisi-definisi norma pada estetika karena aktifitas rasa bukan untuk dihukumi tapi dirasakan. Norma/hukum berorientasi pada sah/valid tidaknya sebuah tindakan, sedangkan rasa/estetika berorientasi pada enak/indah tidaknya sesuatu. Jadi, memang wilayahnya berbeda. Ekspresi rasa/seni bisa menjadi wilayah hukum hanya bila sudah menjadi tindakan yang merugikan pihak lain secara material. Persoalan rumit ini pula yang telah menjadi kontroversi berabad-abad antara tasawuf (hakikat) dengan syariat (hukum/fiqh) dalam sejarah Islam. Tulisan ini bukan membahas kontroversi tersebut tapi akan menjelaskan bagaimana seni (rasa/estetika) bisa menjadi media dzikir, media merasakan kelezatan spiritual atau mempertebal keyakinan akan eksistensi Tuhan.

Tuhan Sumber Keindahan

Tuhan adalah Maha Indah dan Dia menyukai keindahan. Innallaha jamilun yuhibbul jamal (hadits). Tuhan juga adalah sumber keindahan. Dunia dan segala isinya termasuk alam semesta merupakan refleksi eksistensi Tuhan. Wujud keindahan Tuhan harus dirasakan (diimani) maka merasakan keindahan alam ciptaan Tuhan menjadi keharusan pula sebagai paradigma keberimanan (keyakinan) terhadap keberadaan Tuhan. Prof. Rasyidi, dalam bukunya, Filsafat Agama (1978) pernah berujar, “Kalau alam ini adalah ciptaan dari Dzat Yang Tidak Terbatas (infinite mind), maka keindahan itu ada artinya. Dengan perkataan lain, kalau Tuhan ada maka pengalaman keindahan alam adalah suatu hal yang harus dirasakan.” Pengalaman estetis (keindahan) apapun bentuknya berasal dari Tuhan karena Tuhan adalah “Seniman” Yang Maha Sempurna. Kita bisa memandang keindahan dan merasakannya sebagai salah satu bukti adanya Tuhan. Rasa indah hadir karena sense of art atau sense of beauty yang inhern dimiliki manusia. Sense of beauty inilah yang melahirkan ekspresi rasa indah. Keindahan sumbernya adalah Tuhan seperti terbaca dalam beberapa firman dalam Kitab Suci: “Shawwarakum fa ahsana shuwarakum!” Dialah yang membentukmu kemudian mengindahkan rupamu (QS, 40 : 64); “La qad khalaqnal insaana fi ahsani taqwim.” Sungguh Kami telah menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya (seindah-indahnya) rupa. (QS, 95 : 4). “Wa fi anfusikum afala tubshirun?” Dan dalam diri-diri kamu sendiri, apakah kamu tidak memperhatikan? (QS, 51 : 21).

Setiap Muslim wajib memperhatikan alam semesta dalam segenap dimensinya, termasuk keindahannya. Al-Qur’an banyak menjelaskan bahwa Allah menciptakan semua ciptaan-Nya selain berguna secara utiliter –tidak sia-sia— juga indah secara spiritual (Lihat diantaranya QS 40 : 64, 63 : 4, 3 : 191). Keindahan harus ditangkap, dihayati dan dinikmati. Bila sudah sampai pada kenikmatan –yaitu keindahan yang dirasakan dan dihayati— lalu dihubungkan dengan penciptanya yaitu Tuhan yang Maha Indah, maka kenikmatan berganti menjadi ekspresi rasa syukur. Dalam syukur itulah kita merasakan kelezatan spiritual. Disitulah kita bercumbu dengan Tuhan. Melalui proses penghayatan seperti ini kualitas ruhani akan terus meningkat mengimbangi dominasi rasio. Secara teologis keberadaan Tuhan telah dibuktikan melalui pendekatan rasa (intuisi), rasio (otak) dan pengetahuan keagamaan (ilmu).

Seni sebagai Materi Pendidikan

Dalam dunia pendidikan kita, porsi pelajaran yang menekankan pada fakultas rasa (afektif) tidak seimbang dibandingkan dengan banyaknya fokus pada aspek rasio. Akibatnya pendidikan hanya menghasilkan manusia-manusia kering dan gersang dari nilai-nilai keindahan, kelembutan rasa dan kehalusan sikap. Ketajaman afektif dan kedalaman rasa akan menghasilkan manusia yang peka, toleran, bijaksana dan lurus perpedoman pada hati nuraninya (hanif). Kunci pendidikan Islam, seperti tercantum dalam al-Qur’an, mendasarkan pada keseimbangan tiga aspek: rasa (dzikir), rasio (fikir) dan keyakinan (iman). (QS 3 : 191 – 192). Dari ketiga aspek tersebut, Nabi Muhammad Saw memberikan penekanan: “Dalam tubuh manusia ada segumpal daging, bila daging itu baik maka baiklah seluruh tubuhnya, bila rusak maka rusak pulalah seluruh tubuhnya. Itulah hati.”

Untuk mencapai tujuan pendidikan manusia Indonesia, aspek rasa (hati) harus mendapat proporsi yang lebih dominan. Pendidikan seni dalam arti menghidupkan aspek rasa pada diri manusia sudah selayaknya ditingkatkan. Misalnya dalam bentuk pendidikan-pendidikan seni yang sudah ada selama ini seperti pendidikan seni lukis, seni suara, seni tari, seni musik, sastra, puisi dan seterusnya termasuk seni bergaul, seni bersahabat, seni bermasyarakat, seni menghormati hak dan keyakinan orang lain, seni membangun harmonitas sosial dan harmonitas antara pemeluk agama dan seni-seni lainnya. Sikap kasar, brutal, nekad dan kekerasan yang akhir-akhir ini sering sekali mewarnai sikap para pelajar kita juga diantaranya karena miskinnya pendidikan seni yang menghidupkan rasa. Pendidikan selama ini adalah transfer pengetahuan guru pada murid, yang fokusnya pada pengembangan otak semata-mata.

Seni sebagai Refleksi Teologis

Mengapa aspek rasa harus dihidupkan? Rasa harus dilatih dan diasah terus kepekaannya agar responsif terhadap lingkungan. Respon estetis rasa akan muncul manakala menangkap obyek karya seni yang kemudian menghadirkan suasana dan nuansa keindahan. Rasa yang terlatih akan menjadi impulsif, kepekaan rasa akan muncul setiap menangkap obyek karya seni atau keindahan. Kita akan berdesah, “aaaaaakh…… indaaaahhh…..!!” ketika bolamata menangkap sang surya berwarna kuning kemerah-merahan sedang menuju keperaduanya di sebuah pantai ketika senja menjelang memasuki malam. Ekspresi rasa yang sama juga muncul saat sang rembulan kuning keemasan tersenyum merekah di malam hari. Rasa yang peka akan berdesah pula ketika mata menatap barisan bukit dan gunung kebiru-biruan di kejauhan, hamparan sawah hijau dihembus semilir angin bak permadani, sungai yang berkelok-kelok berujung di muara, taburan kerlap-kerlip gemintang berserakan di malam hari menari-nari, jumlahnya miliaran tapi tak ada satupun yang saling bersinggungan. Atau ketika kepekaan rasa menatap raut wajah tulus nan agung sang ibunda, wajah gemes sang kekasih ketika sedang melemparkan senyum manisnya khusus untuk kita, atau wajah bening sang bayi yang jerit tangisnya adalah suara alam yang sejati. Ekspresi keindahan juga akan muncul saat telinga Anda menangkap sayup dentingan jernih suara musik, atau ketika Anda sedang ekstase mengalami puncak kenikmatan seksual (orgasme) dengan istri/suami yang Anda cintai.

Kepekaan respon estetis yang dalam tersebut ketika dihubungkan dengan Tuhan sebagai sumber segala keindahan akan berubah menjadi ekspresi relijius yang menggiring orang pada kemampuan komunikasi transenden, komunikasi ilahiyah. Desahan kekaguman akhirnya akan berganti menjadi eskpresi dzikir pengakuan atas kesenimanan Tuhan yang Maha Indah: “Subhanallah… Allahu akbar… Rabbana ma khalaqta hadza batila, subhanaka faqina ‘adzabannar.” (Maha Suci Engkau Tuhan yang Maha Agung. Tuhan, tidaklah semua ini Engkau ciptakan dengan sia-sia. (Atas kekagumanku pada keindahan-Mu ini) Peliharalah kami dari adzab neraka).

Pengakuan bahwa keindahan dalam seluruh obyek di alam semesta sebagai karya kesenimanan Tuhan yang Maha Sempurna adalah pengakuan atas keberadaan Tuhan itu sendiri. Dengan demikian, seni adalah sebuah refleksi teologis. Tuhan menghadirkan diri-Nya dalam setiap obyek keindahan agar kita bisa menangkapnya. Simaklah beberapa tantangan-Nya seperti tercantum dalam al-Qur’an: “Afala ta’qilun?”, “Afala tubshirun?”, ”Afala tadzakkarun?” Apakah kamu tidak berfikir? Apakah kamu tidak memperhatikan? Apakah kamu tidak mengingat? dan seterusnya. Penghadiran Tuhan lewat simbol-simbol keindahan di alam raya ini hanya bisa ditangkap oleh kepekaan rasa yang memang dilatih, yang respon estetisnya dinyalakan. Bila mendengar penjelasan seperti ini respon kita adalah: “Aaakh… itu kan terlalu di dramatisir, di buat-buat, mana ada orang dalam puncak kenikmatan atau puncak keindahan lalu ingat pada Tuhan. Bulshit.” Bila ini adalah respon Anda, itu berarti indikasi jelas bahwa rasa Anda memang tidak hidup apalagi menyala. Respon estetis Anda mati atau redup karena tidak pernah dilatih dan diasah saat setiap obyek atau simbol keindahan hadir di depan mata. Jadilah Anda manusia kering nan gersang. Hidup Anda menjadi tidak bernuansa dan tak seimbang karena semua peristiwa di lingkungan sekitar direspon hanya oleh otak dan fikiran semata. Kalau hidup sudah tidak seimbang atau kehilangan keseimbangan maka sakit dan datangnya penyakit adalah konsekuensi logis yang pasti terjadi.

Kelezatan Spiritual lewat Seni

Obyek apakah yang menarik respon estetis? Rasa keindahan Anda megap-megap tatkala menatap taburan warna warni yang dipancarkan oleh tenggelamnya sang surya di sebuah pantai. Perasaan Anda akan berdesah hanyut ketika seorang gadis cantik yang anda sukai melemparkan senyuman manisnya khusus buat Anda, “aaakhh……”. Atau mungkin anda terbawa hanyut terbang mengawang-ngawang ketika telinga Anda menangkap sayup-sayup alunan merdu Ritchie Blackmore dalam lagu “Soldier of fortune”, “When I Fall in Love”-nya Nat King Cole, “Fallen”-nya Roxette, teriakan saxophone-nya Kenny G, indahnya lagu dan suara Broery Pesolima dalam “Autum Leaves”, “Hati yang Luka” atau “Pamit.” Banyak air mata titik ketika meresapi alunan “Rindu Rasul”-nya Bimbo atau orkestra relijius “Tombo Ati”-nya Emha Ainun Najib yang luar biasa. Bagaimana musik gamelan Jawa berubah menjadi dentingan nada-nada qasidah yang menyentuh perasaan. Ahmad terisak menangis membacakan sajak “Perempuan itu adalah Ibuku”-nya Arifin C. Noor dan Siti khusyu menikmati kesejukan sukma menguping alunan “Untuk Kita Renungkan”-nya Ebiet G. Ede.

Kelekatan seni dengan agama tidaklah bersifat artifisial melainkan alamiah. Bila usaha mengungkapkan rasa estetis telah berpijak selaras dengan arah hakikat kemanusiaan, maka seni yang dihasilkan pada gilirannya akan lekat dengan agama. Penghayatan estetis, dalam dunia sufi, telah memainkan peranan penting dalam usaha makrifat dengan Tuhan seperti bisa kita dari kisah-kisahnya Rabi’ah al-Adawiyah. Penghayatan estetis pada puncaknya mempunyai kualitas religius dan mistis karena menyentuh dunia yang transendental dan spiritual.

Dari penghayatan keindahan Ilahi kemudian menyuburkan penghayatan estetis pada gunung yang berbaris, pada semilir angin yang meniup sejuk, pada wajah bening ibunda, dan kenapa tidak, pada tubuh bugil seorang gadis yang halus mulus. Bila penghayatan seni dan estetik seseorang sangat dalam, bukan tidak mungkin ia menemukan puncak keindahan ciptaan Tuhan justru pada realitas tubuh bugil seorang gadis. Dan itu sah tidak bisa disalahkan, karena penghayatan sifatnya subyektif. Keindahan yang dihayati bisa berfungsi sebagai media untuk mi’raj, naik sampai kepada penghayatan Tuhan. Bila penghayatan estetis berpadu kemudian bergumul dengan kesadaran transenden disitulah kelezatan spiritual akan sangat manis kita jilati, dan kelezatan inilah yang tak kan pernah mampu terlukiskan dengan kata-kata karena itu adalah pengalaman subyektif.

Dari perspektif inilah, bagi seniman sejati, apalagi yang sudah sampai pada tahap kenikmatan spiritual, mencipta dan terus mencipta karya tanpa henti selama hayat dikandung badan adalah tuntutan dan kebutuhan yang tak mungkin dihentikan. Bagi seniman sejati, tidak ada yang paling menyiksa batin di dunia ini selain berhenti berkarya. Semakin hasil karya sampai pada titik kulminasi yang puncak, semakin dalam ia merasakan kelezatan “iman.” Itulah yang terjadi pada banyak maestro-maestro seniman di Indonesia seperti Affandi, Ahmad Sadali, Titik Puspa, Taufiq Ismail, Rendra dan masih banyak lagi yang sampai usia uzurnya terus berkarya sampai titik darah penghabisan. Adalah menarik diamati mengapa di ujung sukses, para seniman kampiun kelas dunia, terlihat kerinduan mereka untuk merengkuh Tuhan. Kelompok Musisi legendaris The Beatles, di puncak-puncak supremasinya di belantara musik dunia, mereka pergi ke India untuk berguru melakukan yoga dan ekstase sepanjang tahun. Pada saat kembali lantas bersenandung tentang kasih Tuhan dalam “Let It Be”:

When I find myself in times of trouble
Mother Marry comes to me
Speaking words of wisdom: Let it be…. Let it be…..

Adalah sang legendaris, si raja Rock’n Roll, Elvis Presley, ternyata mempunyai guru meditasi dans ering “uzlah” diluar hingar bingar panggung musik. Dengan ketika ia menghimbau para penggemarnya sambil menangis dalam “Crying in the Chapel”:

You saw me crying in the Chapel
The tears I shatter tears of joy
I know the meaning of content went
Now I’m happy with the Lord ….

Di Indonesia, Bimbo, diantara grup musik paling senior yang masih aktif sampai sekarang, setelah belasan tahun malang melintang dalam blantika musik pop dan menuai sangat populer, akhirnya berusaha merengkuh Tuhan dengan kembali ke irama kasidah yang tahun-tahun 1980an dan 1990an mencapai puncak kejayaannya. Lewat Bimbo, musik kasidah naik citranya menjadi elitis. Dengarlah kerinduannya yang tak tertahankan pada kekasihnya Muhammad sang Nabi yang Agung:

Rindu kami ya Rasul, Rindu tiada terkira
Berabad jarak darimu ya Rasul…serasa dikau disini
Cinta ikhlasmu pada manusia bagai cahaya suarga
Dapatkan kami membalas cintamu secara bersahaja?

Wallahu a’lam!!

About these ads

Written by Moeflich

04/01/2011 at 2:23 pm

Posted in Spiritualitas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: