Moeflich Hasbullah: Antologi Pemikiran

Romantisme Khilafah dan Problem Kontemporer

leave a comment »

Moeflich Hasbullah
(Makalah Diskusi Panel tentang Prospek Khilafah di Dunia Islam,
Masjid Darul Hikam, Dago, Bandung tahun 2002
Diselenggarakan oleh Hizbut Tahrir Indonesia (HTI)

____________________________________________________________

“Salah satu kelemahan besar ummat Islam di Indonesia ialah
tidak adanya pemimpin Islam yang diterima oleh semua golongan.”
(Alamsyah Ratu Perwiranegara)

“Riwayat Islam Indonesia adalah riwayat umat
yang selalu berhimpun untuk berpecah.”
(Jalaluddin Rakhmat, 1986: 38)

a

Salah satu aspirasi kebangkitan Islam di masyarakat-masyarakat Muslim di berbagai negara dewasa ini adalah cita-cita nostalgia untuk kembali kepada sistem kekhalifahan. Di Indonesia, gerakan ini dikomandoi oleh Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Berbasis supremasi yang pernah dicapai sistem khilafah pada masa Islam klasik dan pertengahan dalam menyatukan dunia Islam, para aktifis HT meyakini khilafah adalah “the best solution” yang akan menyelesaikan persoalan-persoalan yang belakangan secara sistemik tak henti-henti menggerus umat Islam, dalam jagat politik nasional dan terutama dalam konteks global. Tulisan ini akan mendiskusikan sejauh mana kemungkinan khilafah bisa diterima dan diwujudkan oleh umat Islam dewasa ini dalam konteks relasi kekuasaan dan konstalasi global yang secara ekstrim berbeda jauh kondisi dengan abad-abad klasik dan pertengahan.

Beberapa Pertanyaan
Sistem khilafah Islamiyah telah menunjukkan supremasi kegemilangannya dalam sejarah Islam selama kurang lebih 1.000 tahun atau 10 abad yang membentang sejak masa Khulafaur Rasyidin abad ke–7 hingga abad ke–17 yaitu masa tiga dinasti besar: Turki Utsmani di Turki, Safawi di Persia dan Mughal di India, sebelum berakhir di Turki pada tahun 1924 yang dibubarkan oleh khalifah terakhir Mustafa Kemal Attaturk. Untuk menghadapi persoalan-persoalan internal dunia Islam kontemporer yang sering membutuhkan komando, keseragaman langkah serta kesatuan sikap atas ketidakberdayaannya menghadapi hegemoni politik dan kultural Barat, adalah benar bahwa kaum Muslimin, tidak bisa tidak, membutuhkan satu kesatuan politik yang dapat menyatukan kembali dunia Islam yang terpencar-pencar dan porak poranda diterjang nasionalisme Barat. Namun demikian, untuk berpihak pada gagasan khilafah, sejumlah pertanyaan mesti dijawab sebelumnya agar umat Islam tidak terjebak pada cita-cita emosional semata yaitu gerakan yang tanpa perhitungan politik dan sosiologis yang matang. Khilafah hanyalah sebuah pilihan sistem politik yang bisa sangat kondusif ketika sesuai dengan zamannya seperti pada zaman pasca wafatnya Nabi dan periode setelahnya, dan bisa jadi tidak kondusif dan bukan pilihan ideal pada zaman yang berbeda ketika realitas dan tantangannya pun berbeda. Ruhnya adalah persatuan umat dan persatuan tidak bisa dikelola oleh kekhilafahan bisa oleh bentuk lain. Frustrasi untuk tidak menemukan bentuk lain kecuali keharusan romantisme khilafah bisa jadi merupakan sebuah bentuk kehilangan kreatifitas. Pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab itu adalah:

Pertama, Apakah benar yang dibutuhkan oleh umat Islam dewasa ini adalah sistem khilafah seperti di masa lalu? Jawabannya menyangkut prosentase yang harus didapatkan dengan survey. Berapa persen dari jumlah 1,5 milyar umat Islam di dunia sekarang menginginkan sistem khilafah? Atau, lebih mudah lagi berapa negara Muslim dan negara berpenduduk mayoritas Muslim di dunia menghendaki khilafah? Angka prosentase ini harus didapatkan karena khilafah adalah sistem politik yang akan menyatukan seluruh umat Islam di dunia tanpa mengenal sekat-sekat negara dan nasionalisme. Bila angka yang benar tidak didapatkan atau tidak didukung mayoritas umat Islam sedunia, khilafah hanya akan menjadi gagasan kelompok yang tidak akan mendapat dukungan mayoritas. Bahayanya, hanya akan merupakan aspirasi atau kepentingan sekelompok elit politik yang bukan aspirasi mayoritas umat sehingga lebih kental oleh vested interest dan rebutan pengaruh dan kedudukan. Khilafah tidak boleh dikotori oleh niat-niat kekuasaan, kepentingan kelompok, penguasaan atas kelompok lain apalagi balas dendam tapi harus benar-benar merupakan kebutuhan akan soliditas kepemimpinan umat.

Kedua, mungkinkah kita merekonstruksi puing-puing bangunan khilafah yang telah hancur agar mewujud kembali di zaman modern ini? Bagaimana meyakinkan pemerintahan-pemerintahan yang berpenduduk Muslim atau ormas-ormas Islam agar bersedia bersatu dalam sebuah sistem politik dibawah komando seorang khalifah? Siapa yang akan disepakati bersama sebagai khalifahnya? Di Indonesia misalnya, apakah dari NU? Muhammdiyah? Hizbut Tahrir? PKS? Majelis Mijahidin? Ini bukan persoalan gampang seperti akan dijelaskan kemudian.

Ketiga, bagaimana gagasan khilafah dibangun diantara relasi-relasi kuasa yang nyata di tingkat global (demokrasi, kapitalisme, dominasi Barat, globalisme dan sekularisme) yang sangat kompleks dan tidak sederhana? Atau lebih jelas lagi, bagaimana merebut simpati umat Islam seluruh dunia dari pesona demokrasi yang telah menjadi anutan politik hampir seluruh negara termasuk negara-negara Muslim? Jangan lupa, sejumlah besar umat Islam adalah pro-demokrasi. Harus diakui, demokrasi telah menunjukkan ketangguhannya sebagai sistem politik yang paling kuat, populer dan pilihan masyarakat dunia hingga saat ini. Selama ini, kesan negatif terbentuk bila negara-negara Muslim tidak demokratis. Sebaliknya, akan mendapat pujian dan simpati dunia bila pemerintahannya demokratis. Ini karena 75 persen (110 dari 145) negara non-Islam di dunia telah menjalankan demokrasi. Hegemoni demokrasi telah menentukan tingkat persepsi masyarakat politik dunia dan pengaruhnya terhadap wacana pemerintahan dari negara-negara yang ada termasuk negara-negara Muslim. Bila survey prosentase ini disetujui sebagai prasyarat, data yang dirilis oleh Freedom House pada tahun 2001 cukup menggembirakan bagi pendukung gagasan khilafah. Lembaga itu melansir, dari 47 negara yang berpenduduk mayoritas

“Sang Jagal” yang membubarkan kekhilafahan Islam di Turki tahun 1924. Sejak itu, riwayat kekhalifahan, yang pernah membawa dunia Islam pada kejayaannya, tamat. Karena Turki adalah bangsa Islam yang berbatasan dengan Eropa sehingga dapat melihat langsung kemajuan Barat, Mustafa Kemal Ataturk sangat terobsesi dengan kemajuan Barat dan ia menggelar program yang sangat kontroversial hingga kini yaitu sekularisasi Turki. Ia mendapat sebutan “The Sick Man from Europe.”

Muslim di dunia, hanya 11 negara atau 23 persen yang telah memilih dan menjalankan demokrasi dengan baik. Mayoritas sisanya sebanyak 36 negara atau 77 persen, berarti masuk ke dalam dua kategori: bersifat semi–demokrasi (ragu-ragu, setengah-setengah, baru memulai) atau otokrasi dengan pemerintahan absolut. Namun, perlu juga dicatat, karena pengaruh demokrasi sangat kuat, yang maroritas ini pun tidak berati mendukung dan memilih sistem khilafah. Apalagi bila negara-negara Muslim yang berciri otokrasi pun tidak menunjukkan idealitasnya sebagai negara Islam misalnya otoriter, bersahabat dengan negara-negara Barat yang menindas Islam, mengekang kebebasan dan hak-hak politik rakyatnya, rajanya berfoya-foya dengan kekayaannya dll.

Problem Kontemporer

Berikut adalah sekelumit realitas dan problematika sosiologis-historis umat Islam kontemporer yang harus dilihat dan dipertimbangkan dalam kaitannya dengan gagasan khilafah:

Pertama, fase kemunduran Islam dalam sejarah ditandai oleh krisis dan perpecahan kekhalifahan. Imperialisme Eropa yang mulai masuk ke dunia Islam ditandai oleh masuknya Napoleon Bonaparte ke Mesir tahun 1789 yang membawa ide-ide dan pengaruh Barat. Pengaruh Barat yang paling kuat terhadap realitas politik Islam adalah ide nation-state (negara bangsa). Basis pemikiran nation-state adalah nasionalisme. Nasionalisme inilah yang telah menggerogoti dan memecah belah sistem khilafah yang pada abad k-18 sedang mengalami krisis dan kemunduran karena terlalu luasnya wilayah kekuasaan dan dirasakan tidak aspiratif sementara para khalifahnya menunjukkan moralitas yang buruk dan hanya rebutan kekuasaan. Sejak munculnya ide nation ini, dinasti-dinasti Islam kecil sejak masa Dinasti Abbasiyah hingga masa kekuasaan Turki Utsmani melepaskan diri satu persatu dari khalifah pusat menjadi negara-negara merdeka dan akhirnya berevolusi menjadi negara bangsa seperti dikenal zaman modern ini.

Kedua, keragaman budaya dan peradaban sebagai ciri khas Islam, baik dalam masalah teologi (Mu’tazilah, Asy‘ariyah, Khawarij, Maturidiyah dll), fiqh (Hanbaliyah, Hanafiyah, Syafi’iyah, Malikiyah, Ja’fariyah), politik (Suni, Syi’ah), bentuk negara (republik, kerajaan/monarkhi, dll), kultur (Arab, Afrika Hitam, Turki, Persia, Asia Tengah, Asia Tenggara, dll) di satu sisi merupakan kekayaan peradaban Islam yang disimbolkan dalam ungkapan “unity in diversity,” tetapi di sisi lain, heterogenitas itu pula yang telah turut mendorong proses disintegrasinya sistem kekhilafahan. Salah satu masalah kekhalifahan sejak masa klasik adalah terlalu luasnya wilayah kekuasaan yang menyulitkan kontrol yang efektif. Logikanya, heterogenitas memunculkan ragam aspirasi, ragam aspirasi memunculkan ragam kepentingan, dan ragam kepentingan menyebabkan sulitnya persatuan. Dalam sejarah modern, kawasan Timur Tengah sebagai yang “semestinya” paling solid malah terpecah-pecah. Negara-negara Arab berkiblat kepada Amerika Serikat bahkan menjadikannya sahabat setia seperti Arab Saudi dan Kuwait. Iran yang ketika zaman Imam Khomeini sangat anti-Amerika kemudian berubah menjadi moderat dan melakukan rekonsiliasi. Baru pada masa kepemimpinan Ahmedineijad, Iran mulai bersikap tegas lagi pada Barat. Irak kini sepenuhnya dalam pengendalian Amerika. Di Asia Tenggara pengaruh Barat lebih terbuka lagi. Walaupun Malaysia masa Mahathir Mohammad bersuara lantang kepada negara-negara Barat, terutama Amerika, dan walaupun sistem politiknya menganut kerajaan, tetapi prinsip-prinsip pengelolaan pemerintahan yang dijalankannya adalah nilai-nilai demokrasi. Indonesia sejak masa kemerdekaan telah berbesar hati mengalah untuk mengubur Piagam Jakarta dan menjadi penganut demokrasi yang setia. Masa era reformasi, demokrasi Indonesia benar-benar sudah liberal. Dalam bidang ekonomi, Indonesia sejak lama telah kehilangan harga diri bangsa dengan status sebagai negara peminjang utang yang paling baik seolah-olah tidak bisa hidup tanpa bantuan utang negara-negara Barat lewat IMF, CG7, Bank Dunia, dan lain-lain.

Ketiga, di kalangan internal dunia Islam, sudah dimafhumi semua, sulitnya mencari pemimpin Islam yang disepakati bersama. Revolusi Iran tahun 1979, kendati efek spiritnya membangunkan kesadaran umat Islam sedunia dan telah menjadi basis dari gerakan revivalisme Islam abad ke-20, sebagian kalangan Islam Sunni masih saja ada yang melihatnya sebagai hanya kebangkitan kelompok minoritas Syi’ah Iran karena revolusi itu hanya terjadi di Iran. Revolusi Islam Iran itu tidak menyulut peristiwa yang sama di negara Muslim lain ini karena berkaitan dengan banyak aspek seperti akar-akar sejarah, budaya kawasan, kultur politik dan kepemimpinan, tradisi penghormatan kepada ulama, sistem teologi dan lain-lain. Ideologi Syi’ah Iran juga adalah persoalan lain. Faham Syi’ah tidak bisa diterima oleh dunia Sunni dan tidak akan menjadi ideologi kebangkitan bersama.

Keempat, jangankan di dunia internasional, di Indonesia sendiri, persoalan kepemimpinan Islam yang disepakati bersama dan diterima semua pihak adalah problem internal yang sulit dicapai sejak dulu hingga sekarang. Masing-masing kubu dan kelompok seperti NU–Muhammadiyah, modernis-tradisionalis, radikal-liberal, semuanya terjebak lebih pada kepentingan organisasi dan kelompoknya sendiri-sendiri. Konflik politik dan rebutan pengaruh masih di sekitar usaha memperluas pengaruh organisasi dan kelompoknya. Umat Islam Indonesia masih berfikir dalam kotak sehingga perpecahan adalah ciri khasnya dari organisasi tingkat kecil hingga level nasional.

“Riwayat Islam Indonesia adalah riwayat umat yang selalu berhimpun untuk berpecah. Syarikat Islam berkembang dengan memobilisasikan berbagai kekuatan Islam dan mencapai puncaknya dalam pertikaian internal. Masyumi dimulai dengan mempersatukan ummat Islam dan berakhir dengan perpecahan. Partai Persatuan Pembangunan berusaha mengumpulkan berbagai partai Islam satu wadah dan mengisi kegiatannya dengan perpecahan dan kehancuran (sehingga ada yang menyebut PPP sebagai bukan partai, bukan persatuan, dan bukan pembangunan). Perpecahan menandai ummat Islam Indonesia sejak institusi besar seperti partai, sampai himpunan terkecil seperti Dewan Keluarga Masjid. Pada dataran intelektual, kita melihat pertentangan antara kelompok pemikir yang memandang Islam sebagai alternatif dengan kelompok pemikir yang melihatnya sebagai suplemen saja; antara kaum tradisionalis, modernis dan ‘fundamentalis’; antara orang yang ingin ‘mengindonesiakan’ Islam dengan orang yang ingin ‘mengislamkan’ Indonesia.’”
(Jalaluddin Rakhmat, 1986: 38)

Mencermati realitas politik dunia saat ini, relasi-relasi kuasa antar kekuatan-kekuatan global, pesona demokrasi, vested-interest yang menyulut konflik internal dan pilihan realistis masyarakat di satu sisi, dan realitas kesadaran umat di sisi lain, gagasan khilafah seperti masih jauh panggang dari api –untuk tidak mengatakan mustahil. Persoalan khilafah bukan hanya persoalan normatif yaitu soal keharusan syari’at, yang lebih penting adalah persoalan sosiologis–historis bagaimana kemungkinan gagasan itu bisa diwujudkan secara produktif (tidak kontra produktif) dan didukung oleh mayoritas umat Islam sedunia dalam realitas sosial-kultural dan peta struktur politik yang sudah sama sekali berbeda dengan zaman klasik. Khilafah atau sistem politik Islam lain lebih merupakan persoalan pilihan, selera massa, pesona dan kapabilitas yang memungkinkan menjadi pilihan realistis umat.

Alternatif?
Secara historis, sistem khilafah sesungguhnya merupakan a historical blessing (kebetulan sejarah). Secara konstitusional, sistem khilafah yang didirikan dan berkembang sejak masa Dinasti Umayyah dan Abbasiyah yang bersifat monarki absolut sesungguhnya merupakan a historical deviance (penyimpangan sejarah) dari kekhilafahan yang berkembang pada masa khulafaur rasyidin. Bentuk dan basis moral kekhilafahan yang dijalankan masa khulafaur rasyidin berbeda dengan masa setelahnya yaitu ketika berada di tangan Muawiyah kesini. Kekhalifahan khulafaur rasyidin penuh dengan wibawa keagungan moral yang diwariskan Nabi Muhammad SAW, sementara kekhalifahan setelahnya, pendiriannya pun didapatkan dengan rebutan, konflik dan perpecahan. Pada perkembangannya pun penuh dengan intrik politik dan kisah perebutan kekuasaan, disamping, tentu saja, tidak menafikkan prestasi-prestasi besar yang telah diraihnya dalam berbagai lapangan kehidupan terutama ilmu pengetahuan dan peradaban Islam.
Perbandingan keagungan moral, kelurusan sikap dan kezuhudan khulafaur rasyidin yang termashur dibandingkan khalifah licik Muawiyah setelahnya misalnya dilukiskan al-Kharraz dalam Kitab Ash-Shadiq yang dikutip Arberry (1985: 35-36).

Ketika Abu Bakar melanjutkan kepemimpinan, dan dunia mendatanginya penuh hina, ia tetap zuhud. Ia kenakan busana yang dipeniti, hingga terkenallah ia sebagai “si dua peniti,” Umar bin Khattab, yang juga menguasai dunia, hidup dari roti dan minyak zaitun. Tambalan busananya ada dua belas, di antaranya ada yang ditambal dengan kulit, padahal perbendaharaan Kashra dan Kaisar tersedia baginya. Demikian pula Ustman, ia berbusana dan tampil bak budak-budaknya. Konon pernah terlihat ia keluar dari salah sebuah kebunnya dengan seikat kayu bakar di pundak, dan kala ditanya, ia menjawab, ‘Aku ingin tahu apakah hatiku berontak.’ Ketika Ali meneruskan khilafah, ia membeli sebuah sabuk dan busana seharga masing-masing empat dirham dan lima dirham. Kala didapatinya lengan busana terlalu panjang, pergilah ia ke tukang sepatu. Serta merta diambilnya pisau dan dipotongnya sendiri lengan busana itu: padahal ia pemilah dunia.

Dengan berkuasanya si ‘licik’ Muawiyah (661-680M) segalanya berubah. Pandangan duniawi menggantikan aspirasi batiniah, sebagai basis pemerintahan. Sementara putra dan pewaris Muawiyah, Yazid (680-683M), adalah pemabuk berat. Pemindahan ibu kota negara dari Mekkah ke Damaskus itu sendiri merupakan gejala kemerosotan kesalihan. Kelemahgemulaian wanita-wanita Syria menggantikan pria-pria zuhud Arab. Pendirian ibu kota baru nan mewah, Baghdad, di atas puing-puing kekaisaran Persia lama, yang di dalamnya bahasa Arab hampir menjadi bahasa kedua, mempercepat proses kemunduran.

Hemat penulis, tugas umat Islam sekarang bukanlah terjebak pada romantisme sejarah dengan kembali pada sistem khilafah yang memang hanya kondusif dengan perkembangan masyarakat Islam pada masa klasik, melainkan mencari satu bentuk alternatif yang cocok dengan realitas obyektif umat Islam kontemporer. Alternatif itu bisa banyak, misalnya membina kerjasama antara nagara yang efektif dan kuat tanpa membuat organisasi yang formal agar tidak mudah terjadi perpecahan, yang penting ada kesadaran dan semangat bersatu, atau memaksimalkan fungsi Organisasi Konferfensi Islam (OKI) atau yang bentuk lainnya. Yang terpenting sesungguhnya bukan bentuk lembaga atau institusinya karena institusi itu hanya alat, sifat relatif, urusan dunia, tidak mutlak dan bisa apa saja. Yang penting, bentuk kerjasama, ikatan atau institusi baru itu harus memenuhi kriteria-kriteria sebagai berikut:

Pertama, kerjasama ekonomi antar bangsa-bangsa Muslim agar umat Islam mampu memaksimalkan peran ekonominya dan menghentikan kergantungannya kepada negara-negara Barat seperti dicontohkan Iran dan Malaysia. Iran relatif independen dari ketergantungannya kepada Barat, Malaysia juga sama walaupun sulit melepaskan kapitalisme. Umat Islam harus menghentikan paradigma mengemis dalam pembangunan dengan menggantungkan diri pada lembaga-lembaga donor pemberi utang. Umat Islam harus meningkatkan kemandirian dan meningkatkan kesadaran harga diri.

Kedua, kerjasama pendidikan antar bangsa-bangsa Islam agar umat Islam mampu meningkatkan kualitas pendidikannya dan mencetak SDM-SDM yang berkualitas, tangguh dan mandiri sehingga sejajar dengan negara-negara maju di Eropa, Amerika Serikat atau di Asia seperti Jepang dan Korea. Kerjasama pendidikan ini bisa dalam bentuk pemberian beasiswa, pertukaran pelajar dan mahasiswa dan bantuan-bantuan finansial antara bangsa-bangsa Muslim dengan misi yang sama yaitu mencetak SDM-SDM unggul di dunia Islam sebanyak-banyaknya agar bisa bersaing dengan Barat.

Ketiga, kerjasama politik agar negara-negara Islam bisa mengikat dirinya dalam barisan yang kuat untuk kepentingan politik yang sama yaitu membangun kekuatan umat Islam dengan semangat persatuan yang tinggi. Kerjasama ini penting agar umat Islam dapat menggalang kekuatan bersama, memiliki kesamaan suara, sikap dan langkah untuk melawan ketidakadilan dan kesewenang-wenangan negara-negara besar seperti Amerika Serikat. Agar mampu membela secara politik bangsa-bangsa Muslim yang tertindas seperti Afghanistan, Irak, Palestina dan lain-lain. Egoisme saling mengutamakan kepentingan politik sendiri-sendiri harus dihilangkan, apalagi yang lebih hina yaitu umat Islam mudah diadu domba sehingga bertengkar antar sesamanya.

Keempat, yang tak kalah penting adalah kerjasama militer. Bangsa-bangsa Muslim selama ini sering dengan getir hanya bisa menonton dan mengelus dada ketika sebuah negeri Muslim dicabik-cabik oleh negara adidaya. Sering kita hanya bisa kesal, marah, mengutuk dan berdo’a tapi tidak bisa melakukan aksi nyata melakukan pembelaan atas saudara-saudaranya Muslim di negeri-negeri lain yang teraniaya misalnya dengan serangan balasan. Kerjasama militer sangat penting agar umat Islam mampu meningkatkan kekuatan yang diperhitungkan, terutama untuk memberikan proteksi bagi bangsa-bangsa yang lemah dan masyarakat yang mengalami penindasan oleh sebuah kekuasaan domestik maupun asing. Sebagai agama rahmatan lil ‘alamin, Islam tidak boleh terfokus pada umatnya di negara saja tetapi melakukan pembelaan yang tegas dan luas terhadap kemanusiaan di manapun di penjuru bumi. Wallahu a’lam bishawab.[]

Written by Moeflich

30/12/2010 at 5:00 am

Posted in Khilafah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: