Moeflich Hasbullah: Antologi Pemikiran

Sosiologi Emosi Islam Indonesia: Membaca Lapisan Masyarakat Tak Terbaca

with one comment

Moeflich Hasbullah
(REPUBLIKA, 25-26 April 2000.
Kontributor tulisan dalam buku Tommy Christomy (ed.), Indonesia: Tanda yang Retak (2001)

a

Hampir sepanjang kurun Orde Baru, para pengamat politik, terutama para Indonesianis asing sering kebingungan melihat perilaku politik umat Islam Indonesia. Soeharto di satu sisi adalah seorang pemimpin yang otoriter, tapi sebagian besar umat Islam tak henti-hentinya memberikan dukungan kepadanya. Kendati dukungan-dukungan itu ada yang berupa rekayasa dan mobilisasi, tidak sedikit juga merupakan partisipasi murni sebagai dukungan masyarakat karena pertimbangan-pertimbangan politik tertentu. Sejumlah ulama pesantren, Muslim birokrat dan kelompok-kelompok majelis ta’lim adalah yang paling sering terdengar menyuarakan ‘kebulatan tekad’ mendukung Soeharto. Dalam konteks politik modern, dukungan-dukungan semacam itu sulit difahami diberikan kepada seorang pemimpin otoriter.

Dalam soal ICMI, William Liddle, Indonesianis kondang dari Ohio State University AS, dan Abdurrahman Wahid, sebelum menjadi presiden, adalah dua diantara sekian banyak pengamat yang paling getol mengkritik ICMI sebagai alat politik Seoharto untuk mendukung pencalonannya kembali sebagai presiden periode 1993 – 1998. Liddle dan Gus Dur sama-sama berpendapat bahwa ICMI adalah satu bentuk kooptasi Soeharto atas politik Islam yang sedang mengalami mobilisasi vertikal. Sekali Soeharto terpilih lagi sebagai presiden, ICMI akan ditinggalkan begitu saja. Lebih jauh dari Liddle, seperti diceritakannya kepada Adam Schwarz dalam bukungan A Nation in Waiting (1994), Gus Dur bahkan sampai pada kesimpulan bahwa ICMI digunakan oleh sekelompok Islam modernis (seperti Dawam Rahardjo, Amien Rais, Sri Bintang Pamungkas, Imaduddin Abdulrahim dll) hanya sekadar kendaraan mereka untuk membangun hegemoni Islam dalam pemerintahan yang ujung-ujungnya adalah mendirikan negara Islam.

Ketika Harian Republika terbit tahun 1993, atas pandangan bahwa koran itu lahir dengan proses ‘top down’ alias “perpanjangan tangan” dari sekelompok orang yang sedang berada dalam kekuasaan (ICMI), banyak prediksi mengemuka bahwa koran itu tak akan berumur panjang. Hanya dalam beberapa bulan, koran ‘yang tidak tumbuh dari bawah’ itu akan gulung tikar dan mengalami kebangkrutan.

Ketika Habibie naik menggantikan Soeharto menjadi Presiden ke-3 pada bulan Mei 1998, Harold Crouch, pengamat politik dari Australian National University yang reputasinya diakui di Indonesia, yakin bahwa dalam tempo tiga bulan Habibie akan jatuh menyusul Soeharto karena dianggap tidak memiliki legitimasi di mata rakyat. Pandangan yang sama juga dianut oleh banyak pengamat Indonesia terutama mereka yang tidak mendukung proses naiknya Habibie.

Kemunculan kembali partai-partai Islam di era reformasi menghentak banyak kalangan Islam modernis karena dengan gerakan Islam kultural yang ekstensif tahun 1980an dan 1990an di seluruh lapisan sosial di Indonesia, reinkarnasi parpol-parpol Islam itu dianggap akan merusak efektifitas strategi kultural dan dianggap setback karena umat Islam kembali ke semangat primordialisme dan sektarianisme.

Dalam pemilu era reformasi, Golkar dipastikan hancur, bubar dan tak populer lagi karena telah diidentikkan dengan rezim Orde Baru. NU yang telah kembali ke Khittah 1926 untuk tidak lagi terjun ke dunia politik dan meneguhkan dirinya sebagai organisasi jam’iyyah keagamaan dan pendidikan, diduga akan konsisten dengan khittahnya tersebut dan tidak akan terbawa arus euforia reformasi untuk ikut-ikutan mendirikan partai politik.

Sejarah telah membuktikan, semua prediksi dan bacaan politik di atas ternyata meleset, keliru dan gagal. Sampai sebelum ada alamat tanda-tanda kejatuhan Soeharto yang dipicu krisis moneter, dukungan sebagian kelompok Islam terhadap Soeharto tetap kuat. ICMI tidak bubar setelah Soeharto terpilih menjadi presiden lagi. Bahkan kontradiktif dengan bacaan-bacaan politik Liddle, Gus Dur dan mereka yang sealiran, tokoh-tokoh ICMI seperti Amien Rais, Nurcholish Madjid, Sri Bintang Pamungkas selain dikenal sebagai oposan-oposan Soeharto, adalah tokoh-tokoh penting di balik kejatuhan Soeharto sendiri (Mei 1998).

Republika setelah lebih tiga bulan, ketimbang bangkrut malah semakin berkembang dan menjadi salah satu koran nasional terpenting mewakili segmen dan worldview Muslim modernis. Habibie, setelah lewat satu tahun tetap memerintah dan ternyata mengakhiri kekuasaannya secara konstitusional. Partai-partai Islam kembali menjamur setelah ekstensifnya gerakan Islam kultural dan NU bahkan melahirkan dua partai politik dari rahimnya: Partai Nahdlatul Ulama dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Apakah makna peristiwa itu semua?

Sering meleset, keliru dan gagalnya analisis para pengamat domestik maupun Indonesianis asing, terutama tentang politik dan masyarakat Islam, menginspirasikan adanya sesuatu yang tak terbaca dalam realitas obyektif umat Islam Indonesia. Melesetnya prediksi-prediksi tersebut mengindikasikan bahwa analisis-analisis politik atas umat Islam sesungguhnya tidak menyentuh dan mengungkapkan aspirasi dan dunia pandang umat Islam. Dengan kata lain, analisis itu bergerak hanya di permukaan dan mengungkap hanya kulit luar dari tubuh umat Islam yang kompleks.

Karena analisis tidak menyentuh ‘realitas obyektif’ atau ‘dunia dalam’ (the inner world) masyarakat Islam maka dapat dipastikan secanggih apapun seorang ilmuwan sosial dan sedalam apapun ia menguasai sosiologi dan teori-teori politik modern, maka analisisnya dapat dipastikan meleset dan keliru. Umat Islam tidak merasa secara akurat diwakili oleh analisis-analisis itu. Untuk menghindari kekeliruan dan prediksi yang meleset, Islamisis harus mengambil pelajaran dari Wilfred Cantwell Smith, mantan Direktur Islamic Studies di McGill dan Harvard University, terkenal karena bukunya Islam in Modern History (1957), ketika ia mengingatkan bahwa: “anything that I say about Islam as a living faith is valid only is so far as Muslim can say ‘amen’ to it.” (studi tentang masyarakat Islam hanya sah bila masyarakat Islam sendiri mengatakan ‘benar’ atas studi itu).

Emosi dalam Tradisi Sosiologi

Emosi adalah suatu realitas psikologis yang hadir melekat pada perasaan tapi ‘tidak empiris’ dan ‘tidak terbaca’ dalam realitas sosial. Sebagai realitas batin, ia berupa keyakinan, harapan, cita-cita, kekecewaan dll. Emosi disini tidak difahami dalam konteks yang buruk yaitu berupa manifestasi patologis yang melahirkan konsekuensi-konsekuensi destruktif.

Menurut Clifford Geertz dalam bukunya The Interpretation of Culture (1973), emosi yang merajut rangkaian makna dalam kebudayaan adalah kata kunci dalam memahami tindakan dan kebudayaan manusia. Simbol-simbol lewat mana manusia berkomunikasi, mengekspresikan perasaan dan mengembangkan pengetahuannya dalam kehidupan, ujar Geertz, harus dipahami agar mengerti mengapa manusia melakukan tindakan sosial tertentu.

Dalam dunia perasaan umat Islam, berkembang aspirasi-aspirasi, harapan-harapan, rasa frustrasi, dan idealisasi-idealisasi disebabkan oleh tekanan-tekanan sosial, penindasan politik, keadilan yang tercabik, perjuangan yang gagal, aspirasi yang terhambat dan seterusnya. Emosi Islam adalah realitas psikologis yang melekat dan hidup dalam dunia perasaan masyarakat Islam. Agar terkuaknya dunia pandang umat Islam dan difahaminya harapan-harapan obyektif mereka, menjadikan emosi (dunia perasaan) umat sebagai faktor penting dalam analisis sosiologis adalah tak terelakkan.

Bagaimana sosiologi menjadikan emosi sebagai realitas sosiologis, sementara ia tidak empiris dan difahami bukan sebagai fenomena sosial? Catatan kritis atas sejarah sosiologi mengungkapkan ternyata pertanyaan tersebut tidak berdasar. Pertanyaan tersebut dikerangkakan oleh tradisi sosiologi yang selama ini berkembang yang menurut J.M. Barbalet dalam bukunya Emotion, Social Theory and Social Structure (1998) didominasi oleh wacana yang bertumpu pada “cognitive base.” Cognitive base adalah paradigma sosiologi yang sejauh ini analisis atas perilaku dan tindakan sosial didominasi oleh perspektif sistem sosial. Teori sistem sosial mengajarkan bahwa faktor-faktor struktural masyarakat menciptakan keterbatasan akses-akses dan perolehan kesempatan sehingga kemungkinan munculnya kreativitas tindakan individu secara material sudah dibatasi. Atau bahwa faktor-faktor struktural menyuguhi bahkan menjerat aktor sosial dengan imbalan-imbalan dan kepentingan tertentu sehingga tindakan sosial dipandang menguntungkan. Dalam buku-buku yang berbasis cognitive approach, emosi tidak mendapat tempat sebagai fenomena sosial.

Periode pra cognitive approach, seperti terlihat misalnya dalam tulisan-tulisan sosiolog besar Eropa misalnya Emile Durkheim, Vilfredo Pareto, Gustave le Bon dan Alexis de Tocqueville dan sosiolog-sosiolog Amerika seperti Albion Small, Lester Frank, W.G. Summner, C.H. Cooley dll, terdapat celah-celah wacana dimana peran emosi dalam sosiologi diberi ruang pembahasan. Dalam karya magnum opus-nya, The Protestant Ethics and the Spirit of Capitalism, Weber juga memberi ruang besar pada pembahasan emosi seperti terlihat dalam analisisnya tentang semangat kapitalisme yang diilhami oleh etika protestan. Sejak pendekatan kognitif mulai dominan, kategori emosi menjadi hilang dari tradisi sosiologi. Namun sejak tahun 1970an, banyak sosiolog mulai lagi menempatkan faktor emosi ke dalam analisis-analisis sosial mereka. Emosi sebagai fenomena sosial mulai lagi dipertimbangkan sebagai unsur yang penting dalam memahami dinamika perilaku sosial masyarakat. Ini misalnya dapat dijumpai dalam bukunya Theodore Kemper, A Social Interactional Theory of Emotions (1978), Norman Denzin, On Understanding Emotion (1984) dan yang terbaru Barbalet Emotion, Social Theory and Social Structure (1998).

Relevansi Sosiologi Emosi di Indonesia

Mengapa faktor emosi penting dalam analisis sosiologis? Barbalet memberikan formulasi yang sederhana: “Sociology attempts to explain social phenomena; and emotion is a social phenomenon” (Sosiologi berusaha menjelaskan fenomena sosial dan emosi –dalam ekspresinya seperti marah, sedih, frustrasi, ketakutan dll—adalah fenomena sosial). Pengalaman emosi seseorang atau masyarakat secara mudah menjelaskan sisi-sisi terdalam, personal dan “yang tak terbaca” dari sebuah tindakan dan aksi sosial. Ungkapan emosional akan mudah menjelaskan berbagai peristiwa sosial yang beragam di berbagai tempat karena setiap inividu maupun masyarakat mempunyai pengalaman dan pola-pola emosionalnya yang berbeda-beda. Emosi dengan demikian, dapat dipandang sebagai produk dari proses-proses sosial. Sebagai produk sosial, emosi harus menjadi bagian dari penjelasan-penjelasan sosiologis. Keniscayaan sosiologi concern terhadap emosi karena emosi penting dalam menjelaskan aspek-aspek mendasar dari perilaku sosial. Kategori emosi adalah sentral dalam menjelaskan relasi-relasi individual, institusi-institusi dalam proses sosial.

Teori politik modern mungkin tak habis pikir melihat sebagian kelompok Islam memberikan dukungan dan menyuarakan kebulatan tekad mendukung Soeharto pada zaman Orde Baru padahal dikenal korup dan represif. Tapi kaum santri merasakan bahwa sejak tahun 1980an, Islam sedang “naik daun” atas pertarungannya dengan kelompok abangan dalam birokrasi pemerintahan dan kebijaksanaan-kebijaksanaan Soeharto satu dekade terakhir menjelang kejatuhannya dirasakan sangat menguntungkan kelompok Islam. Kalangan Islam sudah sangat kesal, jengkel dan marah atas dominasi elit circle kelompok abangan dan Kristen yang sangat merugikan Islam seperti terlihat dari kasus-kasus pembantaian aktifis Islam dan peminggiran peran politik Islam. Para kiyai pesantren menangkap jelas getaran emosi umat ini sehingga merekalah yang tampak seperti ironis sering mengeluarkan pernyataan-pernyataan mendukung pencalonan kembali Soeharto.

Robert W. Hefner (1993, 1997) boleh bertesis bahwa kemunculan ICMI ditunjang oleh bangkitnya kelompok kelas menengah Muslim, tapi lebih dari itu, ICMI dapat dijelaskan sebagai fenomena akumulasi emosional dari proses marjinalisasi Islam sedemikian lama oleh rezim kekuasaan. Nurcholish Madjid dan Dawam Rahardjo adalah dua diantara sekian cendikiawan Islam yang frustrasi karena intervensi kekuasaan yang terlalu jauh dirasakan ke dalam usaha pendirian organisasi cendikiawan seperti PERSAMI sejak tahun 1960an. Sekali rezim memberikan ruang gerak yang luas bagi kelompok Islam masuk ke dalam kekuasaan mereka menyambutnya secara emosional dan gegap gempita. Dan proses mobilisasi vertikal ini ditunjang oleh, seperti dilihat Hefner, muncul generasi baru kelas menengah Islam yang sudah enlightened di mana ide dan hasrat negara Islam sudah usang dan tidak populer lagi di tengah angkatan Islam terdidik ini. Ini terlihat dari pemikiran Cak Nur dan Amien Rais sendiri dan wacana yang dikembangkan ICMI yaitu ide-ide di seputar demokrasi, visi teknologi, peningkatan SDM, inklusifisme dan pluralisme. Disini terlihat analisis Gus Dur dan Liddle terlalu simplistis dan politis. Karena ICMI lahir dari proses transformasi sosial yang wajar, maka nasib ICMI sebenarnya tak berhubungan dengan kekuasaan Soeharto. Dan ini dibuktikan oleh kenyataan bahwa tokoh-tokoh ICMI sendiri justru berperan dalam proses lengsernya Soeharto.

Dalam teori bisinis, kelahiran koran Republika mungkin sebuah anomali. Tapi yang luput dari perhatian adalah hidupnya a network of collective emotion sebagai basis emosional massa yang tidak nampak. Pada saat kelahiran Republika, emosi umat dikesalkan oleh kenyataan tidak memiliki satu pun media Islam yang modern, bonafid, profesional, dan qualified. Ketika Republika lahir, yang ada hanyalah media Islam yang dakwah-oriented, normatif dan penampilannya yang rata-rata menyedihkan. Kemunculan Republika di bawah payung ICMI, nama besar Habibie, dan orientasinya yang profesional match dengan ’masa penungguan’ umat secara luas. Dibandingkan dengan media Islam lain, kelebihan koran ini adalah berkembang di atas emosi kolektif masyarakat Islam terdidik. Hanya dalam beberapa bulan oplahnya meningkat pesat. Puluhan ribu pelanggannya yang pernah membeli saham ketika Republika di-go public-kan tidak pernah mempertanyakan kemana uang mereka. Inilah yang menjelaskan mengapan koran ini tidak bangkrut, tetap bertahan bahkan berkembang semakin bonafid dengan dukungan iklan yang semakin besar.

Pandangan emosional umat Islam terhadap Habibie juga menjelaskan mengapa kekuasaannya tidak jatuh dalam tiga bulan seperti diramalkan Harold Crouch dan pengamat lain. Bagi kelompok santri, terutama mereka yang sudah mengalami transformasi pendidikan, Habibie adalah figur ideal seorang santri modern. Ia dikenal sangat cerdas, teknokrat profesional, menguasai teknologi, visioner, etos kerja dan disiplinnya sangat tinggi, tapi juga seorang Muslim yang jarang lepas tahajjud dan tak pernah meninggalkan puasa senin-kamis. Inilah alasannya dipilihnya Habibie memimpin ICMI. Ketika ia menjadi wakil presiden, umat Islam memandangnya sebagai representasi Islam dalam kekuasaan yang sebelumnya didominasi oleh teknokrat sekular-abangan. Ketika ia menggantikan Soeharto, umat Islam menganggap sebagai naiknya kaum santri ke puncak kekuasaan. Dalam psikologi umat yang merasa selalu di luar kekuasaan dan terpinggirkan, kepresidenan Habibie adalah ‘kemenangan’ kelompok Islam. Psikologi emosi inilah yang nampaknya tak tersentuh sosiologi politik dan tak terbaca oleh Crouch dan pengamat sejenis lainnya. Seperti halnya kasus-kasus di atas, penjelasan perspektif emosi juga reinkarnasi partai-partai Islam, masih kuatnya Golkar baru di era reformasi, kembalinya NU ke gelanggang politik. Bahkan sosiologi emosi bisa dengan mudah mengungkap mengapa partai sekuler PDI-P bisa memenangkan pemilu dalam sebuah bangsa yang mayoritas penduduknya beragama Islam.

Sebagai penutup, catatan terakhir harus diberikan. Analisis sosiologi emosi bagi pengungkapan rahasia tindakan sosial suatu komunitas tertentu hanya bisa dilakukan bila didasari oleh sikap simpatik terhadap obyek studi. Karena kemampuan menangkap sinyal-sinyal emosi hanya bisa dilakukan bila berhasil masuk ke dalam relung-relung perasaan sebuah komunitas, ke lorong-lorong hati manusia. Inilah nampaknya yang telah ditunjukkan oleh Wilfred Smith di atas, atau Annemarie Schimmel yang berhasil mengungkap dunia tasawuf begitu indah sementara dia adalah ‘orang luar.’ Analisis sosiologi emosi tak bisa dilakukan di atas landasan antipati dan kebencian. Bila logika ini diterima, sebuah sinar pencerahan dan babak baru tradisi ilmu pengetahuan muncul: bahwa analisis, studi dan tradisi penelitian harus dikembangkan di atas prasangka-prasangka baik, positif dan simpatik. Wallahu a’lam bishawwab!***




Written by Moeflich

31/12/2010 at 10:47 am

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. Likkkkkeeeee….

    Andhika Scutz

    06/03/2012 at 5:07 pm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: