Moeflich Hasbullah: Antologi Pemikiran

Perlunya Reorientasi Dakwah Persis

Moeflich Hasbullah
Pikiran Rakyat, 3 Nopember 2009

a

Tetangga saya, Ketua Umum Persatuan Islam (Persis), Ustadz Siddiq Amien, kembali ke hadhirat Allah hari Ahad tanggal 1 November 2009 setelah mengalami koma akibat stroke beberapa hari di rumah sakit Al-Islam Bandung. Organisasi dakwah Islam yang didirikan Haji Zamzam di Bandung pada 17 September 1923 itu kehilangan lagi pucuk pimpinannya yang menonjol. Persis kini sudah berusia 86 tahun, sebuah usia yang cukup matang untuk sebuah organisasi keagamaan yang bergerakan dalam bidang pemurnian tauhid dan ibadah. Tulisan ini sebagai ta’ziyah saya pada tetangga yang dikenal sebagai tokoh Islam itu.

Perlunya Reorientasi

Sesuai perkembangan zaman yang terus berubah, tantangan dakwah pun sudah banyak mengalami perubahan. Sudah waktunya bagi Persis untuk melakukan rekonstruksi, reformulasi dan reorientasi isu-isu dan metode dakwahnya yang selama ini konsisten dalam bidang pemurnian hukum Islam. Sebagai konsekuensi logis dari orientasi gerakan dakwahnya di bidang pembaruan hukum dan kaderisasi, adalah fakta bahwa Persis sebagai organisasi tidak berkembang signifikan, dengan jumlah anggota yang relatif kecil dibandingkan NU dan Muhammadiyah.

Disebabkan proses pendidikan, modernisasi dan rasionalisasi di kalangan umat, kondisi umat Islam dewasa ini sejak tahun 1980an, secara hukum sudah semakin murni menjalankan ibadah ritualnya, sinkretisme yang selama ini menjadi sasaran dakwah Persis sudah semakin menghilang dari bumi Islam Indonesia. Tren spiritualitas manusia modern justru mendorong umat menemukan kenikmatan beragama pada bentuk-bentuk ekspresi agama yang selama ini “diserang” Persis seperti shalawatan, tarekat dan tasawuf, yang justru belakangan mengalami nasionalisasi. Ketika masyarakat modern mengalami dislokasi, disorientasi, kekeringan jiwa dan kegersangan spiritual, mereka membutuhkan warna agama yang bisa menyiram kekeringan, membasahi kegersangan dan menyejukkan dahaga spiritual itu. Untuk kebutuhan ini, masyarakat modern menemukannya dalam ketentraman dan kedamaian tradisi Islam.

Stagnasi dakwah Persis, dengan demikian, karena harus bertabrakan atau melawan arus kebutuhan masyarakat modern ini. Semakin modern dan terdidik, semakin mapan secara ekonomi dan semakin tinggi posisi-posisi sosial masyarakat Islam dewasa ini justru semakin spiritual dan tradisional. Mereka menemukan kedamaian hati dan ketentraman beragama disitu. Fenomena shalawatan misalnya, justru semakin berkembang, semakin dikemas secara modern dan semakin banyak pengikut dari kalangan masyarakat kota yang terdidik. Komunitas-komunitas shalawat tumbuh subur baik sebagai pengamal, organisasi sampai grup musiknya seperti Kiayi Kangjeng Emha Ainun Nadjib, Album-album Hadad Alwi dan kelompok-kelompok Nasyid. Lantunan shalawat sebagai kultur tradisionalisme, kini malah semakin modern dengan diiringan musik orkhestra. Diluar-luar panggung-panggung shalawat perkotaan, shalawat tradisional tetap hidup di pesantren-pesantren di pedesaaan. Ini adalah proses sosiologis yang wajar. Dalam kajian posmodern, kembalinya manusia modern pada tradisi-tradisi lokal dan genuine adalah gejala global.

Di sisi lain, problem dakwah Persis di tingkat bawah adalah “bahasa galak” pemurnian yang sering menyerang tradisi. Selain tentu ada manfaat dan hasilnya, tetapi dampak sosial yang tak terhindarkan selama ini adalah sikap kurang simpatik masyarakat non-Persis pada lembaga maupun para da’inya, sementara kebenaran pemahaman agama tetap saja sifatnya relatif. Mengingat dua hal di atas, reorientasi dakwah Persis adalah sebuah keharusan. Agar mendapat simpati umat yang lebih luas, sudah waktunya Persis melakukan pembaruan dan perubahan-perubahan dalam dirinya. Langkah pertama misalnya dengan melakukan reformulasi konsep-konsep dakwah dan rekonstrusi ulang isu-isu yang selama ini menjadi perhatian Persis kepada perhatian yang lebih luas dan sesuai perkembangan zaman. Pembahasan di bawah ini dimaksudkan sebagai masukan untuk usaha tersebut dan sebagai bekal serta renungan para da’i Persis di lapangan.

Obyektifikasi TBC

Diluar program-program penerbitan dan pendidikan (madrasah dan pesantren), pemberantasan penyakit TBC (takahyul, bid’ah dan khurafat) adalah isu khas dakwah Persis sekaligus yang paling menonjol sebagai usaha gerakan pemurnian. Isu-isu ini sebenarnya bisa dikatakan sudah ketinggalam zaman. Disamping tren keberagamaan sekarang mengarah pada ha-hal yang bersifat spiritual yang menyejukkan, kondisi masyarakat sendiri, seperti dijelaskan di atas, sudah banyak berubah. Berikut ini sebuah upaya obyektifikasi pemahaman TBC sebagai rekonstruksi ulang orientasi dakwah Persis agar isu-isu takahyul, bid’ah dan khurafat tidak lagi salah kaprah difahami dan diklaimkan, kemudian berganti kepada isu-isu yang lebih signifikan.

Secara umum, sikap takahyul bisa didefinisikan sebagai mempercayai sesuatu berdasarkan khayalan, atau kepercayaan berlebihan bahwa sesuatu diangga benar tanpa pengetahuan yang pasti. Sikap dasarnya meyakini. Maka, alat ukur untuk mengetahui seseorang bersikap takhayul atau tidak adalah melihat keyakinannya (i’tiqadiyah). Dengan demikian, takhayul tidaknya sebuah perbuatan tergantung pada keyakinan seseorang, bukan pada perilakunya. Apa yang hidup dalam keyakinannya ketika seseorang sedang mengerjakan sesuatu? Misalnya, seseorang berziarah ke makam seorang ulama/wali. Apakah takhayul atau bukan, tergantung apa yang hidup dalam fikiran dan keyakinannya ketika ia sedang berziarah. Kalau tujuannya rasional ya bukan takahyul. Misalnya, mendo’akan agar dosa’dosanya diampuni, mengingat kematian, atau mengingat jasa-jasa dan kemuliaan akhlaknya. Jadi, takhayul tidaknya perilaku seseorang baru kita ketahui setelah mendengar pengakuan pelakunya sendiri bukan penilaian dari luar (ustadz/mubaligh). Takhayul itu berada dalam fikiran seseorang bukan dalam perilakunya. Orang lain tidak bisa mengklaim sebuah perbuatan adalah takhayul sebelum memastikan bertanya kepada yang bersangkutan.

Demikian pula dengan perilaku bid’ah yang didefinisikan sebagai perilaku menambah-nambah dalam beribadah yang tidak dicontohkan nabi yang pelakunya diancam dengan api neraka. Sama dengan takhayul, mengetahui sesuatu bid’ah atau bukan harus ada alat ukurnya. Alat ukur sesuatu disebut bid’ah adalah asumsi (dzanniyah). Bid’ah itu letaknya di asumsi bukan di perilaku. Bid’ah tidaknya sesuatu tergantung asumsinya ketika seseorang menyelenggarakan sebuah kegiatan agama. Apa asumsinya ketika seseorang/masyarakat mengadakan acara mauludan? Tahlilan? Marhabaan? Shalawatan? Bila itu semua diasumsikan sebagai ibadah mahdhah yang wajib dikerjakan oleh seorang Muslim, itulah bid’ah. Tetapi bila yang menyelenggarakan mengasumsikannya sebagai media perenungan, mengenang teladan dan sejarah hidup Rasulullah yang mulia untuk dikenang kembali agar menjadi contoh, atau sebagai media penyebaran Islam, tentu saja bukan bid’ah. Walaupun penyelenggaraan itu dirutinkan atau ditradisikan, bahkan bila sampai muncul perasaan sayang bila melewatkannya karena merasakan adanya manfaat dari kegiatan-kegiatan itu, sama sekali tidak bisa disebut bid’ah. Selama ini, yang salah kaprah adalah klaim takahyul dan bid’ah diamatkan ada perilaku seseorang tanpa menanyainya langsung. Inilah yang sejak sekarang harus sudah ditinggalkan oleh dari’-dai Pesis.

Di sisi lain, sikap penghormatan dan pengagungan terhadap Nabi yang mulia (melalui tradisi maulid, rajaban, tahlilan, marhabaan dll) adalah positif dan mulia. Nabi Muhammad SAW tentu sangat berhak dan layak mendapatkan pemujaan dan pengagungan. Yang salah kaprah dan harus mendapat perhatian adalah pemujaan kaum Muslimin pada manusia-manusia biasa hanya karena ia popular seperti artis-selebritis dan tokoh-tokoh yang mungkin akhlak dan moralnya jauh dari nilai-nilai agama. Belum lagi pemujaan kepada kelompok-kelompok seni dan olah raga (pertunjukkan musik dan sepakbola misalnya) yang sudah menjadi ritual sehingga mirip dengan agama. Sosiologi agama menyebutnya sebagai “secular religion.” Fenomena ini bid’ahnya lebih nyata ketimbang tradisi penghormatan dan pengagungan terhadap sosok Rasulullah SAW.

Demikian juga dengan khurafat. Alat ukurnya adalah khurafiyah (kepastian). Khurafat itu meramal, forecasting, memastikan sesuatu yang belum terjadi lalu menyebarkannya pada orang lain. Meramal bisa merusak akidah karenanya dilarang oleh Islam. Bacaan gaib tentang yang akan terjadi tidak boleh dibahasakan dan disebarluaskan karena bisa merusak akidah dan menjadi khurafat, terutama bila diceritakan kepada orang-orang awam. Siapa saja (termasuk ustad, kiayi, ulama) yang dengan mudah memastikan bacaan gaibnya tentang apa yang akan terjadi di masa datang, adalah perbuatan khurafat. Tetapi, selama tidak memastikan, selama merelatifkan diri dan pengetahuannya, hanya mengagungkan Allah, dan malah mengajak meningkatkan keyakinan kepada Allah bukanlah khurafat. Ulama-ulama hikmah yang lurus yang dibimbing oleh Allah, tidak akan berani memastikan kemampuan bacaan spiritualnya seperti dukun-dukun dan paranormal. Pesan utama nasihat-nasehat spiritualnya adalah selalu mengajak untuk memperkuat keyakinan kepada Allah.

Penutup

Zaman telah banyak berubah. Dulu, perilaku TBC banyak dipraktekkan karena keterbelakangan. Sekarang, karena proses pendidikan dan rasionalisasi berfikir umat, TBC sudah semakin menghilang. Orientasi keagamaan masyarakat kini sudah bergeser kepada hal-hal yang bernuansa spiritual karena orang mencari kedamaian dan ketenangan hidup. Masyarakat kini sudah dewasa untuk menilai bahwa masalah-masalah hukum adalah urusan-urusan pribadi tergantung selera madzhab fiqhnya. Sinkretisme pun modern muncul dalam wajahnya yang baru: pemujaan kaum Muslimin pada artis-selebritis yang banyak ahklaknya tidak teruji, berkerudung tapi seksi mempertontonkan bentuk tubuh, orang Islam memuja tokoh-tokoh sekuler melebihi kepada Nabi, orang-orang Islam menentang UU Pornografi dan lebih konsern pada kebebasan daripada misi moral Islam. Orang-orang Islam, sadar atau tidak, banyak yang terlibat dalam proses sekularisasi kehidupan yang luas. Inilah lapangan dakwah yang lebih kondusif dan lebih krusial. Sesuai namanya, “Persatuan Islam” didirikan bukan untuk membuat “perpecahan.” Akan lebih berpengaruh luas pada umat dan akan lebih simpatik bila Persis bergerak dalam isu-isu persatuan umat yang sebenarnya dan meninggalkan orientasi fiqh yang cukup dititipkan pada ruang-ruang pribadi untuk diamalkan sendiri-sendiri, tanpa harus menjadikannya sebagai orientasi dakwah dan isu sosial. Allahummafir warham Siddiq Amien. Amien![]

___________________

Tanggapan untuk Moeflich Hasbullah:

Dakwah Persis On the Track

Tiar Anwar Bachtiar
4 Nopember 2009
a

Tulisan Moeflich Hasbullah di Pikiran Rakyat (3/11/09), “Perlunya Reorientasi Dakwah Persis” mengundang reaksi kurang positif dari sebagaian besar jamaah Persis yang kebetulan membacanya. Banyak SMS dan telefon masuk ke HP saya meminta untuk mengklarifikasi dan menanggapi tulisan tersebut. Sebagai ta’ziyah terhadap guru kami, K.H. Sidiq Amin, kami terima tulisan ini dengan sangat senang hati. Namun, ada beberapa hal yang harus diluruskan berkaitan dengan klaim-klaim yang ‘terlalu berani’ dalam tulisan tersebut.

Tren Tradisionalisme

Moeflich secara eksplisit menyebutkan bahwa kebutuhan dakwah masyarakat modern sudah berubah, yaitu “spritualisme” sehingga masyarakat kembali para tradisi. Dan Persis yang dianggap terlalu berorientasi pada “pemurnian hukum Islam” harus mengubah wajahnya ke arah sana.

Analisis ini sudah tidak tepat sejak memotret realitas modern yang terjadi. Gejala spiritualisme masyarakat modern memang muncul sebagai konsekwensi dari semakin menguatnya sekularisme yang menihilkan aspek spirittualitas. Di masyarakat Barat gejala ini kemudian berkembang menjadi fenomena New Age yang ditandai dengan menguatnya keinginan masyarakat Barat untuk memuaskan dahaga spiritual mereka. Lalu mereka mencari apa saja yang bisa memuaskan dahaga spiritual itu. Ada yang menemukan Budhisme, Konfusianisme, mistisisme Kristen, tasawuf, atau bahkan sekadar ajaran-ajaran meditasi yang tidak memiliki akar agama sama sekali.

Kalau kemudian gejala tumbuhnya tradisionalisme di Indonesia dianggap sebagai salah satu bentuk dari tren spiritulisme di atas, kelihatannya terlalu terburu-buru. Selain karena masyarakat Muslim di Indonesia tidak seluruhnya mengalami proses de-spiritulisasi akibat modernisasi dan sekularisasi, fenomena itu pun tidak selalu memperlihatkan menguatnya spiritulisme. Tumbuhnya majelis-majelis dzikir, shalawatan, dan sebagainya lebih banyak memperlihatkan faktor sosialnya daripada faktor spiritualnya.

Silakan perhatikan secara saksama. Di Jakarta yang namanya majelis dzikir menjamur di mana-mana. Namun, pada umumnya masyarakat yang mengikutinya—sebagian besar rakyat kecil—justru hanya terjebak pada formalisme dzikir, bukan pada pemaknaan spiritual. Agak sulit dimengerti orang-orang yang hendak atau pulang berdzikir yang diklaim oleh saudara Moeflich sebagai bentuk penghayatan spiritual pergi ramai-ramai memacetkan jalan-jalan protokol di Jakarta, naik mobil sampai ke atap-atapnya tanpa mempertimbangkan faktor keselamatan dan aturan berlalu lintas, membunyikan klakson keras-keras, berteriak-teriak seperti orang berdemonstrasi, dan pasti mengganggu kenyamanan orang sekitar yang mereka lalui. Apakah spiritualisme dan penghayatan agama yang dimaksud Moeflich seperti ini?

Fenomena ini justru malah mengarahkan analisis pada frustrasi sosial masyarakat akibat lilitan kemiskinan dan ketidakpuasan pada penguasa. Ini sama sekali bukan potret kekeringan jiwa dan praktik spiritulisme masyarakat modern yang muncul sebagai efek dari kesejahteraan materi dan kepuasan duniawi yang berlebihan. Lebih tepat fenomena ini disebut sebagai “pelarian sesaat” dari himpitan kehidupan yang semakin sulit di negeri ini. Masalah mejelis dzikir dan shalawat yang mereka pilih karena mereka sejak semula hidup di lingkungan seperti itu. Dan ini sama sekali bukan pilihan.

Seandainya majelis-majelis dzikir ini adalah pilihan akibat kebutuhan spiritualisme modern, semestinya harus banyak masyarakat Muhammadiyah, Persis, Al-Irsyad, atau lainnya yang memang sejak semula tidak tumbuh dalam tradisi itu harus ikut pula ke sana. Kenyataannya tidak sama sekali. Jadi, ini bukan masalah kebutuhan spiritual dan spiritualisme masyarakat modern, melainkan tuntutan sosial saja dari masyarakat yang memang tumbuh dalam tradisi seperti itu. Bergabungnya mereka ke majelis-majelis dzikir dan shalawatan lebih sebagai usaha menegaskan kembali identitas keberagamaan mereka untuk membedakan diri bahwa mereka bukan Muhammadiyah, bukan Persis, bukan Al-Irsyad, dan semisalnya yang semakin menemukan tempat dalam tradisi keberagamaan di negeri ini.

TBC (Takhayul, Bid’ah, dan Khurafat)

Masalah berikutnya yang juga diklaim terlalu berlebihan oleh Moeflich adalah bahwa dakwah Persis ini “jumud” hanya berfokus masalah itu-itu saja, yaitu TBC (takhayul, bid’ah, dan churafat) dan terlalu berorientasi pada pemurnian hukum Islam. Saudara Moeflich ini jelas hanya melihat Persis dari kacamata awam, bukan dari kacamata seorang akademisi dan intelektual yang mengerti persoalan secara objektif. Akhirnya yang muncul adalah asumsi-asumsi tidak berdasar sama sekali.

Dari sisi pembacaan dakwah Persis saja sudah rancu. Di satu sisi Moeflich menyebutkan dakwah Persis adalah pemurnian hukum Islam (baca: fiqih), tapi di sisi lain yang menjadi fokus dakwah Persis adalah TBC. Coba perhatikan baik-baik istilah takhayul, bid’ah, dan khurafat ini. Adakah istilah-istilah ini ditemukan dalam kamus hukum Islam (baca: fiqih)? Rupanya saudara Moeflich ini tidak mengerti betul istilah-istilah dalam kajian Islam. Istilah takhayul, bid’ah, dan khurafat adalah istilah yang lekat dengan masalah-masalah akidah, bukan fiqih. Jadi, kalau yang fokus dakwah Persis adalah pemberantasan TBC, mestinya Moeflich menyebut dakwah Persis sebagai dakwah “pemurnian akidah”, bukan “pemurnian hukum Islam”.

Kalau dari sisi istilah saja sudah kacau, lebih kacau lagi saat Moeflich memotret objektifikasi TBC di lapangan. Seolah-seolah TBC ini sudah benar-benar hilang sehingga tidak perlu lagi menjadi fokus perhatian. Film-film hantu, reality show perdukunan dan perhantuan, iklan-iklan ramalan dan dukun-dukun, sampai fenomena ajaran-ajaran sesat yang belakangan semakin menjamur akan disebut apa oleh Moeflich? Bukankah jelas itu adalah praktik-praktik takhayul, bid’ah, dan khurafat kontemporer yang akan sangat berbahaya bagi akidah umat? Kalau ini dianggap tidak ada sehingga tidak perlu ada kelompok umat Islam yang mengkhususkan dakwah ke sana, justru menjadi kontra-produktif. Tidak ada perlindungan terhadap umat dari bahaya-bahaya yang akan merusak akidah mereka.

Persis dan Tantangan Dakwah Kontemporer

Judul yang dibuat di atas sesungguhnya terlalu ‘ujub, seolah-olah dakwah Persis sudah sempurna. Kami mohon maaf, sama sekali bukan itu yang dimaksud. Judul di atas hanya ingin menunjukkan bahwa sependek pengetahuan dan kajian kami, dakwah yang tengah dijalankan Persis saat ini selalu berusaha berada dalam track dakwah yang benar dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat.

Kami sadar sepenuhnya bahwa masyarakat terus berubah dari waktu ke waktu. Namun, bagi kami “Islam” tidak pernah berubah sehingga “materi dakwah” sesungguhnya tidak pernah berubah mengikuti perubahan masyarakat. Yang ada hanyalah penyesuaian metode dan fokus dalam berdakwah disesuaikan dengan mad’u yang tengah dihadapi. Metode dan fokus ini tidak bisa digeneralkan dan diuniversalkan. Metode dan fokus sifatnya partikular bergantung pada tantangan yang tengah dihadapi objek dakwah (mad’u). Oleh sebab itu, isu dakwah bisa bersifat sangat partikular sesuai dengan kelompok mad’u yang dihadapi. Inilah yang dipraktikkan oleh da’i-da’i Persis selama ini. Setiap kelompok mad’u yang berbeda, akan diperlakukan secara berbeda pula.

Bagi Persis sebagai institusi kesadaran ini sudah menggelinding pada program yang beragam. Program-program yang dibuat mengacu pada kebutuhan-kebutuhan lapangan yang dihadapi, paling tidak, oleh jamaah Persis. Dalam konteks dakwah pun, kebijakan dakwah selalu dibuat setelah terlebih dahulu memperhatikan kebutuhan umat sehingga program yang dibuat dapat beragam.

Sebagai contoh, tantangan dakwah yang paling krusial dan paling menggangu akidah umat yang tengah dihadapi dewasa ini adalah tantangan pemikiran sekuler (baca: liberalisasi pemikiran Islam). Dalam tulisan khutbah ‘Idul Fithri terakhirnya di majalah Risalah, Ust. Sidiq Amin secara panjang lebar menulis tantangan itu dan apa yang harus dilakukan umat dalam menghadapinya. Kesadaran ini sebetulnya bukan hal yang baru diidentifikasi di tubuh Persis. Kenyatannya dapat dilihat dari respon Persis terhadap isu kontemporer ini. Sudah banyak hal dilakukan oleh Persis, termasuk menyiapkan kader-kader yang akan menjadi ujung tombak dakwah melawan pemikiran-pemikiran sekuler ini.

Kalau suadara Moeflich melihat bahwa tantangan dakwah modern adalah “spiritualisme”, kami justru tidak melihatnya sebagai tantangan khas. Spiritualisme adalah kebutuhan abadi manusia. Sepanjang agama dijalankan dengan benar dan khusyuk, mazhab apapun yang diambil, pasti akan memenuhi kebutuhan spiritual manusia. Adapaun kerangka ‘amaliyyah agama (Islam) itu terdapat pada formulasi fiqih. Oleh sebab itu, mengajarkan “fiqih” adalah sesuatu yang juga bersifat abadi. Sangat aneh mengajarkan Islam tanpa mengajarkan “fiqih”. Jadi, mengajarkan fiqih tidak bergantung pada apakah ini tantangan kontemporer atau bukan. Ini adalah materi dakwah abadi yang harus terus dipelihara dan diajarkan.

Kalau memang ada alternatif lain “spiritualisme” dalam Islam tanpa fiqih silakan tunjukkan. Kalaupun ada para ulama mazhab apapun akan sepakat bahwa praktik spiritualisme tanpa fiqih adalah praktik yang menipu dan sesat. Bukankah ajaran kebatinan ala Aliran Kepercayaan Kepada Tuha YME tidak pernah ada satupun ulama yang mengakuinya sebagai bagian dari kepercayaan Islam? Sebab ajarannya hanya menekankan pada kesadaran batin (hakikat), tanpa mempedulikan fikih (syari’at). Kalau yang dimaksud ajaran “spiritulisme” itu adalah dzikir-dzikir dan shalawat-shalawat, apakah ajaran spiritulisme Islam itu hanya sebatas itu? Lagi pula mengenai maraknya grup-grup dzikir sudah dijelaskan di atas.

Memang, kalau hanya membaca Persis dari jendela rumah orang lain akan sulit menyelami gelombang dakwah yang tengah dilakukan oleh Persis. Apalagi membaca Persis secara sambil lalu dengan analisis yang sepenuhnya hanya didasarkan asumsi-asumsi awam. Kalaupun ada asumsi-asumsi akademik, analisis sudah terlampau “jadul” untuk diterapkan pada Persis hari ini yang sudah melakukan banyak transformasi dan perubahan menyesuaikan dengan gerak zaman yang terus berubah. Ada baiknya, saudara Moeflich datang langsung berdialog dengan kami agar sebelum berbicara di depan publik yang sangat luas dan beragam saudara mendapatkan informasi yang benar. Wallâhu A’lamu bi Al-Shawwab.

___________________

Tanggapan Balik untuk Tiar

Moeflich Hasbullah
7 Nopember 2009

a

Pertama-tama saya mengucapkan terima kasih kepada Tiar Anwar Bachtiar yang telah memberikan tanggapan atas tulisan saya. Tanggapan tersebut berusaha meluruskan asumsi-asumsi saya yang dihayatinya ‘terlalu berani.’ Perlu ditegaskan, tulisan itu memang saya buat dalam posisi sebagai orang luar. Selain itu, artikel koran yang pendek membuat saya harus menulis singkat dengan berisi uraian-uraian yang tidak terlalu mendalam sehingga terkesan hanya asumsi tidak berdasar dan perlu diluruskan. Tulisan itu memang memerlukan penjelasan lebih lanjut bila didiskusikan lebih jauh. Karena ditanggapi secara serius oleh Sdr. Tiar, tulisan saya yang telah memunculkan salah pengertian ini pun harus mendapat penjelasan lebih lajut. Untuk diskusi lebih produktif, tulisan penjelasan ini saya persembahkan agar tidak disalahmengertikan.

Dalam beberapa hal, terutama pembelaan Tiar tentang Persis ada benarnya. Tapi, sayangnya tidak difahami konteksnya. Tiar menanggapi tulisan saya murni dari teks, tidak dari konteks yang melahirkan asumsi-asumsi saya. Mungkin karena Tiar sebagai orang dalam sehingga konteks ini kurang dihayati. Karena itulah, judul tanggapan yang dibuatnya pun “Persis On the Track” yang sangat jelas menegaskan bahwa dakwah Persis sudah benar. Sikap ini menegaskan penolakan atas kritik-kritik yang sangat diperlukan. Sebenarnya, tulisan saya adalah akumulasi dari reaksi masyarakat yang sudah demikian lama, bahkan berpuluh tahun, saya dengar dan saya hayati dari masyarakat non-Persis. Bila masyarakat hanya menyimpannya dalam memori kolektif mereka sehingga syak wasangka dan ghibah terus berlanjut, saya mengutarakannya apa adanya. Itulah yang barangkali membuat sebagian tokoh Persis serasa ‘dijewer kupingnya.’ Sesungguhnya, bila bersedia mendengarkan kesan dan persespi dari luar sebagai masukan dan kritik, tulisan saya menemukan pijakannya.

Tren Spiritualitas

Soal spiritualis, ada beberapa hal yang perlu ditanggapi dan diklarifikasi. Memang tidak pada tempatnya orientasi spiritualitas dipaksa-paksakan. Seruan saya kepada Persis hanya bersifat tawaran saja, yang bisa saja tidak perlu ditanggapi. Tapi mari melihat fenomena ini secara lebih mendalam agar tidak menimbulkan kesimpulan-kesimpulan yang keliru. Sdr. Tiar mengatakan, “tumbuhnya majelis-majelis dzikir, shalawatan dan sebagainya lebih banyak memperlihatkan faktor sosial daripada faktor spiritual.” Untuk menunjang asumsinya ini, Tiar menjelaskan bahwa masyarakat mengikutinya lebih sebagai “formalisme dzikir, bukan pemaknaan spiritual.” Kesimpulan ini, menurut saya tidak berdasar karena hanya berdasar asumsi. Kesimpulan itu bersifat judgement dan “tuduhan” bukan hasil dari riset atau penelitian, apalagi dengan pendekatan partisipatory research. Orang tidak akan melakukan dzikir bila tidak merasakan makna dan manfaatnya, dzikir tidak akan menjadi fenomena bila tidak memberikan dampak kejiwaan bagi pengamalnya. Pemaknaan spiritual adalah proses psikologis yang berlangsung secara individual di kedalaman jiwa ketika seseorang merasakan tergetar perasaannya, tersentuh atau menangis. Hal itu tidak bisa dirasakan oleh orang lain (pengamat, peneliti). Dari mana sdr. Tiar berani menyimpulkan “bukan pemaknaan spiritual”? Hanya dari keramaian dan kemacetan jalan disebabkan tumpleknya perjalanan mereka? Selain pemaknaan tidak bisa dirasakan orang luar (outsider), saya pun tidak dipercaya “keliaran dan anarkisme jalan raya” yang digambarkan Tiar dinisbatkan pada para jama’ah yang akan mengikuti pengajian dzikir dan shalawatan. Senaif itukah mereka? Saya yakin mereka tidak akan menerima mendengar tuduhan ini. Dua hal yang mungkin menyebabkan Sdr. Tiar menyimpulkan seperti itu: (1) rasa “kurang suka” pada gejala majelis dzikir karena subyektifitas dirinya atau (2) jangan-jangan salah lihat, mungkin mereka adalah suporter sepak bola atau demonstrasi mahasiswa.

Sdr. Tiar Anwar membuat kesimpulkan tentang potret spiritualisme yang perlu dipertanyakan. Praktek dzikir dan spiritualisme menurutnya, lebih merupakan “frustasi sosial masyarakat akibat lilitan kemiskinan dan ketidakpuasan pada penguasa … sama sekali bukan potret kekeringan jiwa dan praktek spiritualitas masyarakat modern yang muncul sebagai efek dari kesejahteraan materi dan kepuasan duniawi yang berlebihan… hal ini lebih merupakan kekeringan sesaat dari himpitan kehidupan. Mereka pun hidup dalam lingkungan seperti, sama sekali bukan pilihan.” Ini pun bagi saya merupakan “sweeping statements” yang tidak berdasar.

Andaikan pun benar praktek-praktek dzikir dan tren spiritual muncul akibat lilitan kemiskinan, frustrasi sosial dan ketidakpuasan pada penguasa? So what? Memangnya kenapa? Itu memang gejala umum. Sebabnya tidak penting, tapi jawabannya yang harus dilihat! Apapun alasannya, yang penting adalah kemana mereka lari dan mencari jawaban? Bila kepada praktek dzikir dan tasawuf, berarti itulah jawabannya. Tidak mungkin kepada hukum fiqh, karena fiqh hanya mengatur lahiriah peribadatan, bukan aspek batinnya. Fiqh memberikan validitas ibadah, bukan kenikmatan, kekhusyuan ibadah dan ketenangan jiwa. Itulah tren kebutuhan spiritual. Sdr. Tiar juga mengatakan kecendrungan spiritual “sama sekali bukan pilihan”? Lho? Apa dasarnya? Lari ke dzikir dan hal-hal spiritual bukankah itu pilihan? Apa ada yang memaksa mereka melakukan wirid, dzikir, shalawatan dan menghadiri pengajian tasawuf? Apakah ribuan umat Islam di kota-kota besar yang menghadiri pengajian majlis-majlis dzikir yang dipimpin Arifin Ilham, Aa Gym, Yusuf Mansur dan lain-lain, yang pengajiannya membahas tema-tema hati (ikhlas, sabar, syukur, dzikir dll) yang menyejukkan, yang menentramkan jiwa, apakah itu bukan pilihan? Apakah mereka ada yang memaksa? Tumpleknya umat Islam ke jenis pengajian seperti itu apakah itu bukan karena kekeringan jiwa? Mengapa mereka memilih ustadz-ustadz itu yang menawarkan kedamaian hati? Mengapa ke ustadz lain tidak sefenomenal itu?

Perlu Sdr. Tiar ketahui, sesungguhnya keringan jiwa dan spiritualisme tidak selalu berhubungan dengan kelimpahan materi dan kepuasan dunia yang berlebihan. Kekeringan spiritual juga tidak hanya terjadi di masyarakat Barat yang agnostik, yang jauh dari agama, tetapi juga pada orang-orang beragama, termasuk orang-orang Islam, yang orientasi keberagamaannya lebih menekankan pada aspek-aspek lahiriah seperti hukum (fiqh). Ini sudah menjadi teori. Pada saat orang tidak mengalami kepuasan pada sebuah sajian agama, mereka akan lari kepada sajian bentuk lain yang memberikan jawaban atas persoalan-persoalan hidup. Pada saat tren beragama hanya menekankan aspek-aspek lahirian, kebutuhan batin tidak terpenuhi. Sementara, kebutuhan utama manusia itu di jiwa. Tumpleknya ribuan masyarakat di kota-kota besar menghadiri jenis pengajian seperti itu sangat mudah disimpulkan bahwa selama ini pengajian konvensional tidak memuaskan mereka, tidak memenuhi dahaga spiritual, karena pengajian konvensional tidak menghidupkan hati, tidak memberikan jawaban atas persoalan-persoalan hidup yang mereka hadapi sebagai dampak dari arus deras modernisasi.

Adalah fakta bahwa ibadah formal seperti shalat wajib lima waktu saja belum dirasakan cukup untuk merasakan kedekatan dengan Tuhan. Shalat tanpa menghidupkan hati tidak akan tercipta kekhusyuan ibadah. Hanya Nabi dan para sahabatnya yang merasakan kenikmatan ruhani dari ibadah syari’at karena kualitas ibadah mereka dan kualitas kedekatannya kepada Allah SWT. Tapi umatnya? Mereka kesulitan untuk sanggup beribadah sekualitas Nabi dan para sahabatnya. Pasca Nabi dan generasinyalah, stressing praktek ibadah mulai terpisah: wilayah hati dan wilayah syari’at. Yang mendalami wilayah hati berkembang menjadi gerakan dan kelompok-kelompok tasawuf hingga kini, dan wilayah syari’at adalah umat Islam mayoritas (jumhur).

Di era modern kini, selain kelompok-kelompok tasawuf yang telah mapan, majlis-majlis dzikir seperti itulah yang memberikan sentuhan dan kelengkapan ibadah syari’at. Kalau ibadah syari’at dipandang sudah cukup untuk menumbuhkan kebutuhan spiritual, bagaimana kita menjelaskan mengapa di dunia Islam tumbuh kelompok-kelompok tasawuf dan gerakan tarekat yang sudah berumur berabad-abad? Mengapa berkembang kelompok-kelompok tarekat seperti Qadiriyah Naqsyabandiyah? Syattariyah? Sanusiyah? Tijaniyah dll? Mengapa Imam Al-Ghazali, Rabi’ah Al-‘Adwiyah, Al-Hallaj, Ibnu Arabi, Dzunnun Al-Misri, Abu Sa’di dll sangat terkenal ajarannya dan banyak pengikutnya? Adalah aneh mereka yang datang ke pengajian-pengajian majlis dzikir justru adalah orang-orang yang biasa menjalankan shalat alias taat beragama, yaitu orang-orang biasa yang hidupnya tidak dalam kelimpahan materi. Adalah aneh, dosen-dosen UIN/IAIN yang “ahli Islam” banyak yang menjadi muridnya Abah Anom di Suryalaya, banyak yang menjalani kehidupan tasawuf, banyak yang menjadi muridnya kelompok-kelompok tarekat. Ini menunjukkan bahwa kekeringan jiwa sangat dialami oleh kaum Muslimin yang menjalankan kewajiban dasar syari’at Islam seperti shalat lima waktu dan ibadah-ibadah lainnya. Di satu sisi, ibadah syari’at belum cukup menghidupkan hati dan ketenangan jiwa, di sisi lain, proses modernisasi, materialisasi, hedonisasi, dan perubahan sosial yang cepat memperkuatnya.

Tiar juga mengatakan bahwa tren spiritual, bila benar kebutuhan, seharusnya diikuti oleh hijrahnya kelompok-kelompok tajdid seperti Muhammadiyah, Persis, Al-Irsyad dll ke dalam tren tersebut. Ini pernyataan mengada-ada. Ya jelas tidak mungkin, terutama secara kelembagaan. Karakteristik organisasi memiliki kaplingnya sendiri-sendiri. Tapi secara individual, sebagai apresiasi individu, sudah banyak saya temukan. Teman saya misalnya, pengurus Muhammadiyah Jawa Barat, menjelaskan Muhammadiyah, minimal kecenderungan, sudah mulai mengapresiasi aspek-aspek kultural Islam seperti shalawatan, mauludan, yasinan dll, tentu tidak berarti harus melaksanakannya. Bahkan, beberapa kawan-kawan saya, dari Persis dan Muhammadiyah, sangat apreasitif dan menikmati tradisi Islam. Tapi itu hanyalah pribadi-pribadi, bukan sebagai organisasi.

Ini semua yang saya maksud sebagai tren. Tren itu ada dan menjadi fenomena yang kuat dirasakan oleh masyarakat yang membutuhkannya, tidak harus selalu di Barat, tidak harus orang non-Muslim, tidak harus selalu orang kaya, merupakan kebutuhan dan jelas sebuah pilihan, dengan tidak harus terjadinya hijrah organisasi Islam kepadanya. Sebagai sebuah tren, jelas ada, harus dibaca dan sudah menjadi fenomena umat.

TBC

Oleh Sdr. Tiar, saya dianggap rancu memahami takhayul, bid’ah dan khurafat. Katanya, itu masalah akidah bukan masalah fiqh karena istilah-istilah itu tidak ditemukan dalam nomenklatur fiqh melainkan dalam tauhid. Ini yang saya maksud Sdr. Tiar tidak memahami konteks persoalan. Sebagai konsep, benar itu wilayah tauhid, tapi prakteknya? konteksnya? Konteksnya adalah penerapan dalam ibadah. Dan, ini yang harus dicatat, yang saya tekankan bukan soalnya penyimpang akidah, tapi soal praktek-praktek ibadah (dalam konteks aturan fiqh) yang dianggap bid’ah, takhayul dan khurafat. Tuduhan TBC dialamatkan pada mereka yang melakukan praktek peribadatan kepada Tuhan. Kita menganggap seseorang menyimpang atau tidak dalam tauhidnya kan dilihat dari praktek ibadahnya. Semua orang Islam mengetahui, tauhid dan ibadah tidak bisa dipisahkan. Tauhid sebagai landasan keyakinan, ibadah sebagai prakteknya. Dan konteks praktek ibadahnya inilah yang saya soroti. Jadi, ‘pemurnian akidah’ sudah included dalam permunian hukum dan ibadah. Lagi pula, di awal tulisan saya sudah menyebutkan Persis sebagai gerakan ‘pemurnian akidah dan ibadah’ (silahkan dilihat lagi). Dalam uriannya saya menyoroti praktek dari akidah itu.

Soal praktek TBC sudah hilang, itu secara umum, saya tidak mengatakan “sama sekali hilang,” atau “sudah hilang 100%.” Ketika Tiar menyebutkan “seolah sudah hilang” ya itu kesan dia saja. Sdr. Tiar bisa mengamati dengan membanding fenomena keberagamaan masyarakat Islam Indonesia tahun 1980an ke belakang dan 1980an kesini. Saya kira sepakat bahwa frekuensi dan kuantitas sinkretisme beragama sudah semakin jauh berkurang, tentu tidak sama sekali hilang. Beberapa komunitas kecil di daerah-daerah tertentu masih mempraktekkannya, tapi jumlahnya tidak berarti.

Soal film-film hantu, perdukunan dan iklan ramalan, kita pun harus obyektif memandangnya. Tidak bisa itu semua diklaimkan sebagai bukti maraknya praktek takhayul dan khurafat masyarakat. Soal hantu, dalam Islam ada jin-jin kafir yang menyerupai hantu. Kenyataannya makhluk itu ada, orang awam menyebutnya ‘hantu,’ orang Islam meyakininya itu jin. Soal iklan ramalan, itu iklan, tawaran, bisnis. Yang melakukannya, dukun dan paranormal. Untuk mengetahui masyarakat Islam mempercayai takhayul dan khurafat, harus dilihat dulu, iklan itu laku atau tidak? Harus ada data, berapa jumlah orang Islam yang melayani iklan-iklan semacam itu? Atau, hanya sakadar iklan dan tawaran yang dilihat sebagai tontonan saja? Bisa jadi, sebenarnua itu tidak laku. Saya kira, pengajian yang sudah dimana-mana termasuk di televisi dan informasi Islam sudah terbuka, sudah cukup menyadarkan masyarakat Islam untuk tidak melayani iklan-iklan semacam itu.

Materi Fiqh

Sdr. Tiar mengatakan bahwa mengajarkan fiqh bersifat abadi. “Sangat aneh mengajarkan Islam tanpa fiqh… mengajarkan fiqh tidak bergantung tantangan kontemporer atau bukan … harus dipelihara dan terus diajarkan.” Komentar ini lahir dari ungkapan saya yang seolah-olah menganggap fiqh tidak penting. Nampaknya, ini kesalahfaham dari pernyataan saya: “… cukup menitipkan fiqh dalam ruang-ruang pribadi tanpa harus menjadikannya sebagai orientasi dakwah dan isu sosial.” Sebenarnya, dari tulisan saya, tidak ada pernyataan yang mengatakan bahwa fiqh itu tidak penting. Ini asumsi Tiar saja yang menangkap seolah tulisan saya “membesarkan spirutalisme dan mengecilkan fiqh.” Salah faham ini harus diluruskan.

Saya kira, tidak ada orang Islam yang berani mengatakan fiqh itu tidak penting. Bagaimana mungkin? Fiqh itu tuntunan aturan ibadah. Konteks yang saya maksud adalah, faham tauhid dan ibadah Persis yang dirasakan masyarakat non-Persis menyerang mereka. Karakter inti persoalan hukum adalah kebenaran berdasarkan dalil atau alasan. Karakter utama dalil/alasan adalah perbedaan pendapat, itulah sebabnya ada beberapa madzhab dalam fiqh (juga tauhid) dalam Islam. Perbedaan pendapat tidak bisa dipaksakan, perbedaan faham tidak bisa disamakan. Ini natural kehidupan. Ketika dakwah yang materinya hukum ibadah diorientasikan keluar komunitas, hasil ditimbulkannya selalu muncul perbedaan alasan/pendapat, parahnya adalah konflik bila perbedaan tidak sanggup disikapi dengan kebesaran hati.

Karenanya, bagi saya, pemahaman hukum fiqh itu tidak perlu diorientasikan keluar komunitas, cukup dalam komunitas sendiri. Pengajian rutin, kajian dan pendalaman tentang tauhid ibadah dan hukum fiqh itu mutlak perlu dalam komunitas sendiri-sendiri sebagai pegangan bersama. “Konflik Persis vs masyarakat/tradisi” (tidak selalu pengikut NU) selalu dalam masalah ini, dan ini sudah saya dengar berpuluh tahun. Para mubaligh/da’i yang mempertanyakan tradisi (mauludan, shalawatan, tahlilan, yasinan dll yang sudah mapan di masyarakat) selalu diasosiakan dengan Persis (atau Muhammadiyah, atau yang sefaham). Bisa jadi ini tidak benar. Mungkin, tidak selalu mubaligh Persis, atau mubaligh Persis tidak “selalu galak” dan dakwah Persis tidak hanya soal-soal itu. Itu benar. Tapi asosiasi itu sudah mengental dalam kesadaran masyarakat bahwa warna dakwah Persis selalu mempersoalkan ketentraman tradisi, sementara materi-materi diluar itu mendapat penerimaan yang positif. Inilah inti masukan perlunya reorientasi. Terlepas dari benar atau salah asumsi ini, tetap ini sebuah masukan dan bahan renungan bermanfaat buat intern Persis. Itulah konteks dari ungkapan saya bahwa masalah fiqh, setelah dikaji dan dikuasai, setelah menjadi pemahaman kelompok atau komunitas, cukuplah menjadi amal masing-masing tanpa harus diproyeksikan keluar. Memaksa-maksakan “memurnikan” pemahaman tauhid dan ibadah orang lain diluar kelompok, berdasarkan asumsi bahwa pelaksana tradisi itu tauhid dan ibadahnya “belum benar,” “masih menyimpang,” “perlu diluruskan,” “tidak ada dasar dan contohnya” –apapun dalil dan alasannya– dikhawatirkan merupakan ekspresi atau terjebak pada klaim “merasa sudah benar sendiri” dan ini berbahaya. Dan saya yakin, Persis tidak merasa seperti ini.

Penjelasan panjang lebar dari asumsi-asumsi saya jelas tidak mungkin dituliskan dalam sebuah artikel koran yang pendek. Tidak mungkin saya menulis berdasarkan kerancuan pemahaman dan asumsi tidak berdasar, yang benar adalah kurang penjelasan. Bila rancu dan tidak berdasar, mana mungkin Pikiran Rakyat, surat kabar terbesar di Jawa Barat, dibaca oleh ratusan ribu orang dan sudah memiliki reputasi nasional itu menjatuhkan citranya oleh sebuah tulisan yang asal-asalan. Terima kasih, mudah-mudahan memberikan kejelasan dan bermanfaat.

Saya hanya berharap satu hal, mudah-mudahan tulisan itu menjadi suntikan darah segar bagi Persis untuk lebih baik ke depan, apapun kekurangan tulisan saya itu, walau suntikan seperti itu mungkin sudah biasa dan tidak aneh. Semakin banyak vitamin masuk ke dalam tubuh, akan semakin sehat dan kuat!! “Kita disini bukan untuk saling bersaing,” kata Bill McCartney, “tapi untuk saling melengkapi.” “Orang yang selalu mengiyakan pendapat-pendapat kita,” kata Kong Hu Chu, “adalah musuh yang berbahaya. Sahabat sejati adalah mereka yang mau menegur dan meluruskan kesalahan-kesalahan kita.” Wallahu ‘alam.[]

__________________

Tanggapan atas Tanggapan

Tiar Anwar Bachtiar
9 Nopember 2009

a

Perlu diketahui bahwa secara sosiologis saya hidup di tengah keluarga yang majemuk. Nenek saya seorang pengamal tarekat, murid Abah Anom. Semua saudara ayah saya bukan pengikut Persis. barangkali hanya beberapa orang saudara ibu saya yang aktif di Persis. Sebagian aktivis dan muballigh Muhammadiyah. Saya hidup dan dibesarkan di lingkungan yang hampir semuanya “bukan” Persis. Hanya keluarga saya yang Persis.

Dari latar sosiologis ini, saya mengerti betul bagaimana tanggapan masyarakat non-Persis terhadap kami. Apa yang ditulis oleh Kang Moeflich bisa benar. Tapi itu kami rasakan, ya kira-kira 20-an tahun lebih ke belakang. Semakin kemari, masyarakat di sekitar tempat saya tumbuh itu semakin berubah pandangan tentang Persis. Mereka memang tidak masuk Persis, tapi mengerti apa yang dibawa oleh Persis. Mereka pun sebagian besar tidak berubah, tapi bisa memahami keberadaan kami. Itu yang saya maksud “analisis Akang sudah jadul.

Tren Spiritualisme

Soal kebutuhan spiritual masyarakat saya pun tidak menolaknya. Bahkan saya katakana itu sebagai kebutuhan “abadi”. Yang saya tolak adalah klaim bahwa spiritualisme yang muncul adalah “tren” modern. Bagaimana bisa disebut tren kalau itu dialamatkan pada nenek saya yang sudah lebih dari 50 tahun menjadi pengamal tarekat Abah Anom. Nenek saya adalah “makhluk” yang tidak pernah termodernkan. Anak-anaknya yang “tidak Persis” dan sangat termodernkan karena pendidikan dan tinggal di kota-kota besar, satu pun tidak ada yang mengikuti jejak nenek saya.
Kalau itu dikatakan “tren modern” mestinya yang mengamalkan itu generasi anak-anak nenek saya, bukan nenek saya.

Jelas ini akan dikatakan oleh Akang sebagai kasuistis. Saya pun akan mengatakan hal yang sama kalau contoh-contoh yang diberikan adalah kasus dosen-dosen IAIN/UIN Bandung. Buat saya analisis sosial itu partikular dan kasuistis. Dalam ilmu-ilmu sosial saya lebih percaya pada partikularisme faktual daripada generalisme. Generalisasi sebagian besar tidak selalu cocok dengan realitas yang dihadapi. Generalisasi yang meyakinkan hanya saya percayai dari informasi Wahyu: Al-Quran dan Al-Hadis. Sepanjang itu masih hasil analisis manusia, sifatnya hanya partikular.

Soal fenomena dzikir, saya mengikuti tidak hanya satu kasus. Beberapa orang memang menghayati sampai nangis-nangis. Bahkan, bukan hanya kasus dzikir, mengikuti Training ESQ pun sering mengalami hal serupa seperti dalam kasus dzikir. Kalau boleh saya sebut, ini sama sekali bukan karena “tren”, melainkan memang watak manusia begitu. Inilah yang semakin menguatkan bahwa spiritualisme bukan “tren”, melainkan kebutuhan abadi yang harus dipenuhi. Dalam hal ini, Persis bukan tidak menyediakannya. Hanya saja, medianya berbeda dengan yang diajarkan oleh tarekat-tarekat itu.

Soal bahwa banyak juga orang yang menjadikan majelis-majelis dzikir sebagai penegasan identitas, itupun sesuatu yang nyata. Bahkan tidak sedikit yang datang ke majelis-majelis itu hanya untuk motif duniawi seperti ingin kaya dan sebagainya. Dalam kasus tarekat Abah Anom, misalnya. Tetangga-tetangga ayah saya banyak yang ikut karena motif “kalau berdzikir sekian ribu kali, segala keinginan akan dikabulkan”. Salah satu keinginannya adalah agar usahanya lancar dan bisa kaya. Tidak sedikit juga pejabat atau calon pejabat yang sengaja datang ke tokoh-tokoh spiritual seperti Abah Anom ini agar mereka dapat tetap mempertahankan atau dapat meraih jabatan yang diinginkan. Mungkin ini juga bisa terjadi dalam kasus petinggi-petinggi IAIN/UIN yang ikut tarekat. Tidak perlu menolak dulu klaim saya, silakan cek dulu. Kalau ini benar, motif apa ini? Apakah spiritual? Saya tidak yakin kalau ini disebut sebagai motif spiritual. Memang tidak selalu dan semuanya begitu, tapi tidak sedikit yang begitu.

Sekali lagi, ini semakin memperkuat dugaan saya bahwa di Indonesia—atau mungkin di negara-negara Islam—pada umumnya amalan-amalan tarekat dan dzikir semacam ini bukan tren, melainkan pilihan “sosial” saja untuk mempertagas identitas keberagamaan mereka atau untuk motif apa saja. Oleh sebab itu, dugaan saya, fenomena ini akan terus berkembang.

TBC

Mohon maaf kang, soal TBC ini bagian dari masalah-masalah akidah sebetunya Akang sendiri sudah mengulasanya di tulisan pertama. Bukankah Akang katakan bahwa takhayul, bid’ah, dan khurafat itu masalah motif, bukan bentuk perbuatannya? Saya setuju. Dan itu bukan wilayah fiqih. Perkara nanti mewujud dalam amaliah itu jelas, tapi tidak masuk dalam ranah perdebatan fiqih. Sebab, dalam perdebatan fiqih semua masalah adalah khilafiyah. Sementara dalam wilayah aqidah, wilayah hitam putih harus ditegaskan. Dalam hadis pun tegas disebutkan “keharaman bid’ah” sampai diancam masuk neraka bagi siapa yang melakukannya. Kalau ini wilayah fiqih, tidak perlu ada ancaman masuk neraka. Bukankah ijtihad dalam fiqih itu, benar atau salah tetap dapat pahala. Keharaman yang sama terjadi dalam khurafat dan takhayul.

Perlu juga Akang ketahui, ini pemahaman saya tentang TBC, bukan pemahaman masyarakat Persis pada umumnya. Sebab, banyak juga masyarakat Persis yang melihatnya seperti Akang, bahwa bid’ah bagian dari persoalan dan perdebatan fiqih. Saya pun tidak menampik bahwa masih banyak umat Persis yang masih belum mengerti betul apa yang dimaksud bid’ah, khurafat, dan takhayul, tapi tidak perlu digeneralisir bahwa Persis tidak mengerti ini masalah apa.

Saran saya, mari kita sama-sama buka literatur klasik ataupun kontemporer yang membahasa masalah bid’ah ini. Dengan begitu kita menjadi tahu di mana para ulama menempatkan masalah ini. Bukankah istilah bid’ah, khurafat, atau takhayul ini adalah bagian dari istilah yang kita adopsi dari tradisi klasik para ulama terdahulu?

Materi Fiqih

Saya setuju kalau Akang ingin mengatakan bahwa fiqih pun penting sama seperti halnya spiritualitas. Tapi saya tidak setuju bahwa fiqih itu wilayah “privat” yang harus diprivasi. Dalam pengamalannya mungkin benar, tapi dalam konteks dakwah bagaimana mungkin disimpan di wilayah privat? Dakwah itu kan masalah menyampaikan, bukan masalah menerima atau tidak. Menyampaikan itu ya kepada siapa saja.

Barangkali yang harus dikembangkan itu bukan soal masalah disimpan di wilayah privat atau publik, tapi masalah budaya “saling memahami.” Itu pun kalau masalahnya benar-benar pada wilayah fiqih yang mumkinul-ikhtilâf. Tradisi ini sudah dikembangkan sejak lama dalam tradisi para ulama dengan mengembangkan apa yang disebut fiqh ikhtilâf. Dalam hal ini, yang harus belajar bukan hanya Persis, tapi juga kepada pihak yang sering berseberangan dengan Persis. Sebab, pada kenyataannya intoleransi pun terjadi pada orang-orang non-Persis kepada jamaah Persis yang melakukan ibadah sesuai yang diyakini Persis. Jangan dikira kekerasan yang terjadi selalu akibat ulah oknum Persis, tapi juga sering terjadi karena orang-orang non-Persis tidak senang dengan kehadiran Persis hingga memicu mereka memprovokasi masyarakat untuk bertindak “keras” pada Persis.

***

Ala kulli hâl, terima kasih atas masukan-masukannya. Yang tidak kami inginkan adalah sikap underestimate seolah-olah kami ini masyarakat bodoh yang senang dengan kekerasan. Kenapa tulisan Akang yang pertama mendapat reaksi begitu keras dari masyarakat Persis? Saya menilai Akang sudah underestimate. Ini juga yang harus Akang pahami. Bukankah Akang mengkritik Persis yang terkesan keras dan menyudutkan orang yang berbeda paham hingga menyukut kemarahan mereka. Hal yang sama Akang lakukan dalam artikel Akang di PR tempo hari itu.

Kalau hanya di facebook mungkin reaksinya tidak akan separah itu. Jelas masyarakat Persis akan marah dengan gaya bahasa Akang yang sangat menyudutkan dan underestimate. Ini bukan masalah analisis semata, melainkan masalah kesantunan berbahasa. Saya yakin kalau bahasa yang ditulisa dikemas dengan menyelami dinamika sosial dan psikologis masyarakat Persis yang akan jadi mad’u tulisan Akang, reaksinya tidak akan begini. Kami bukan masyarakat yang anti kritik. Saya pun di lingkungan Persis dikenal sebagai “tukang kritik”. Di sini butuh kearifan, bukan hanya kepandaian. Wallâhu A’lam.[]

Written by Moeflich

13/01/2011 at 2:55 am

%d bloggers like this: