Moeflich Hasbullah: Antologi Pemikiran

Terorisme: Proyek dan Komoditas Politik

leave a comment »

Moeflich Hasbullah

a

Tulisan Herry Nurdi, ”Apa itu Terorisme?” (Republika, 14/8/2010) menggetarkan saya, terutama di bagian penutupnya. Tulisan itu wajib dibaca dan direnungkan oleh para pemimpin negeri ini kalau ingin selamat dari adzab Neraka kelak. Tulisan ini ingin mengelaborasi dan menguatkan apa yang digugatnya tersebut. Terorisme yang sungguh-sungguh yaitu sebuah gerakan teror dengan tujuan menebar ketakutan dan menciptakan rasa tidak aman publik sebenarnya tidak ada. Itu bukan sejatinya watak manusia yang mempunyai akal dan hati. Apalagi dilakukan oleh orang beragama, apalagi oleh tingkat ulama. Kiprah Ustadz Ba’asyir yang keras selama ini ingin hanya ingin mengamalkan perintah Tuhan sesuai keyakinannya. Karena wataknya yang keras, tanpa kompromi dan bertentangan dengan kesadaran publik, kita sebutlah ia teroris, sementara semua tuduhan kepadanya sudah gugur dengan putusan pengadilan bahwa ia tidak terbukti ia terkait dengan gerakan-gerakan teroris selama ini. Dan, bagaimana penangkapannya bukan proyek dan komoditas, orang tua itu terus-terusan dituduh, dikejar-kejar dan ditahan sementara yang jelas-jelas merugikan negara seperti raibnya 6,7 triliun dalam kasus Bank Century, mafia korupsi di perpajakan, rekening gendut perwira polisi, dan kebocoran gas elpiji yang telah mengorbankan ratusan korban tidak ada hukumannya yang tegas dan berat. Para penyeleweng jabatan ini membunuh harapan kesejahteraan jutaan rakyat. Membunuh harapan lebih kejam daripada membunuh fisik. Orang yang dibunuh fisiknya selesailah hidupnya, tapi orang yang dibunuh harapannya bertahun-tahun ia akan hidup dalam penderitaan.

Terorisme yang kita kenal hanya ada dua: terorisme akibat (responsive terrorism) dan terorisme diciptakan (created terrorism). “Terorisme akibat” adalah respon sekelompok orang tertindas terhadap hegemoni kelompok dominan yang dirasakan menindas. Melakukan perlawanan face to face tidak mungkin, digunakanlah metode gerilya atau hit and run. “Terorisme diciptakan” adalah gerakan terstruktur sebuah hegemoni politik, nasional atau global, untuk mempertahankan kekuasaan, menciptakan musuh, menunjukkan jasa dan membenarkan tindakan-tindakannya. Yang kedua ini adalah gerakan legal yang dilakukan oleh negara-negara maju dan beradab. Amerika Serikat dan sobat kentalnya Isreal banyak diyakini sebagai produser dari created terrorism ini. Dan dunia sudah melihat banyak korbannya: Jatuhnya banyak pemerintahan sementara peristiwa 9/11 yang merontokkan dua gedung kembar WTC sendiri sebagai dalilnya sudah banyak ditemukan oleh para analis (intelelijen, ilmuwan dan fisikawan) Amerika sendiri sebagai sebuah rekayasa dan kebohongan bahwa itu dilakukan oleh kaum teroris pimpinan Osama bin Laden. Tetapi, sangat menggenaskan, demi kebohongan itu harus mati ribuan orang (sipil dan tentara) di Irak dan Afghanistan dan bahkan tentara Amerika sendiri. Hingga tahun 2006 saja, sudah 3.000 lebih tentara Amerika tewas. Sedang yang masih hidup banyak yang stress dan mengalami gangguan jiwa. Oxford Research Group (ORG) yang berbasis di kota London Inggris mengeluarkan kesimpulan analisanya terhadap perang anti terorisme yang digagas AS selama ini bahwa “perang terhadap terorisme yang dikomandani AS justru menyuburkan ancaman organisasi Al-Qaidah dan berbagai gerakan teroris lain di dunia.” Kesimpulan ini diungkapkan oleh Paul Rogers, salah satu tokoh ORG. Ia mengatakan, “Semua indikator perang melawan terorisme, tidak memperoleh hasil apapun di Irak dan Afghanistan. Tapi hanya membunuh orang sipil, dan menangkap puluhan ribu orang lainnya tanpa proses pengadilan. Singkatnya, tidak ada yang dihasilkan dari perang melawan terorisme kecuali bencana belaka.” Menurut kajian yang dilakukan ORG dengan tajuk Towards Sustainable Security – Alternatives to the War on Terror, disebutkan bahwa perang melawan terorisme yang dimulai sejak enam tahun lewat, telah gagal mencapai hasil yang diinginkan.

Terorisme Tidak Sederhana

Di sisi lain, bila terorisme dianggap sudah menjadi kenyataan dan hidup sebagai makhluk tersendiri, masalah terorisme bukan persoalan sederhana. Ia tidak menjadi difahami lebih baik apalagi menjadi hilang oleh stigma, klaim, kutukan, fatwa, komentar negatif ulama dan tokoh-tokoh Islam. Harap diketahui, persoalan terorisme sangat kompleks menyangkut konteks politik global (global political context), ketidakadilan tatanan dunia (unjust world order), ideologi, kerakusan kapitalisme (greedy capitalism), kolonialisme kebudayaan dan ekonomi (cultural and economic colonialism), penghayatan psiko-agama dan psiko-politik, latar belakang pendidikan individu, sosialisasi nilai-nilai ketika seseorang tumbuh dan dibesarkan oleh keluarga dan lingkungan masyarakat dan seterusnya. Mark Kauppi mantan analis lembaga intelijen Amerika DIA (Defense Intelligence Agency), seperti dijelaskan oleh Clive Williams dalam bukunya Terrorism Explained (1994), mengungkapkan tiga kunci motivasi kelompok teroris dalam melakukan aksi perlawanannya yaitu ideologi, psikologi dan lingkungan. Ideologi menyangkut perlawanan ide, isme atau pemikiran. Dalam hal ini, perseteruan Islam dan Barat yang sudah berlangsung berabad-abad masih merupakan pertarungan ideologi yang jauh dari titik damai. Psikologi menyangkut penghayatan, sosialisasi dan internalisasi nilai-nilai individu sejak kecil. Lingkungan menyangkut pengaruh-pengaruh luar-diri dalam membentuk mental perlawanan dan pemberontakan.

Meminjam Arnold Toynbee, terorisme juga adalah adalah persoalan challenge and response. Terorisme adalah sebuah reaksi dari sebuah aksi, sebuah akibat dari sebuah sebab. Tantangan, sebab dan aksi inilah yang menjadi akar-akar kemunculan terorisme. Seperti diyakini Imam Samudera dkk, tantangan, sebab dan aksi itu adalah sikap dan kebijakan negara-negara Barat terhadap dunia Islam: perlakuan sewenang-wenang Amerika (Yahudi) terhadap bangsa-bangsa Muslim di Palestina, Afghanistan, Chechnya, Irak, Iran dan lainnya, politik double standar Amerika terhadap bangsa-bangsa Muslim, “politik membebek” berupa dukungan total Inggris dan Australia terhadap kebijakan luar negeri Amerika terhadap dunia Islam dan seterusnya.

Menurut kesimpulan ORG di London itu, justru Amerikalah penyebab suburnya gerakan terorisme. Sisi ini jarang sekali ditekankan oleh mereka yang membicarakan “terorisme Islam” termasuk oleh kalangan Muslim sendiri. Bila pun mereka membicarakan faktor Amerika, porsinya sedikit, fokusnya kebanyakan pada perilaku terorisnya, pada reaksinya bukan pada sebabnya. Ulama dan para cendekiawan, dengan gencar bak pahlawan kesiangan, menyalahkan saudara-saudara mereka sendiri, sedangkan orang Barat menyadari itu kesalahan mereka. Apa artinya perlawanan segelintir individu-individu yang nekat dibandingkan grand design terorisme legal yang dilakukan negara adidaya dengan senjata-senjata pemusnah massal?

Faktor narasi besar yang dicpitakan Amerika dan sekutunya inilah yang sangat dihayati oleh “teroris-teroris” Muslim sebagai dasar dan inspirasi tindakan-tindakan perlawanan mereka. Imam Samudera misalnya, dalam bukunya Melawan Terorisme, judul yang sangat percaya diri menegaskan siapa yang sesungguhnya teroris, menceritakan ia selalu menangis dan meledak rasa marahnya setiap melihat korban-korban Muslim tak berdosa, terutama anak-anak balita di Palestina hancur tubuhnya berserakan oleh ganasnya bom-bom pasukan Amerika dan Inggris (sebuah tingkat penghayatan yang tidak kita miliki). Amerika tidak pernah berani mengutik-ngutik Israel. Dan ini sudah terjadi sejak lama sehingga meninggalkan goresan luka yang dalam. Perasaan luka yang dalam dan belum sembuh itu, muncullah pemicu lain seperti penghinaan dan pelecehan terhadap Nabi Muhammad SAW yang digambarkan membawa bom seperti diilustrasikan dalam gambar kartun di sejumlah negara Barat seperti Jylland-Posten Denmark yang kemudian diikuti oleh media lain yaitu Megazinet di Norwegia, France Soir di Prancis, juga di Jerman dan Selandia Baru. Penghinaan yang tidak pernah dilakukan oleh orang Islam terhadap agama lain atas dasar demokrasi dan kebebasan.

Perspektif normatif yaitu klaim benar dan salah, sumpah serapah, kutukan bahkan fatwa selain perkara yang paling mudah diucapkan juga tidak memberikan sumbangan apapun terhadap pemahaman dan penyelesaian perkara terorisme. Lucunya, demonstrasi yang muncul karena Nabinya yang sangat dihormati dilecehkan, secara simplistis dituduh “Islam radikal,” “Islam anakis,” “umat Islam kurang dewasa” dan sejenisnya. Memahami konteks kemunculan rasa marah, kekecewaan, demontrasi atau terorisme jauh lebih bermanfaat ketimbang melemparkan kutukan-kutukan. Sesungguhnya, upaya menghilangkan terorisme mesti berangkat dari akar-akar historis, psikologis dan sosiologis kemunculannya yaitu menghilangkan imej-imej buruk terhadap Barat seperti saat ini hidup dalam hati dan fikiran segelintir orang yang sangat marah terhadap kebijakan-kebijakan negara-negara Barat terhadap dunia Islam. Barat sudah didefinisikan sebagai musuh. Selama imej “musuh” yang berfungsi sebagai akar persoalan terorisme ini masih ada, jangan harap sikap permusuhan sebagian kalangan Islam kepada Barat akan hilang, kendati tidak selalu diekspresikan dengan gerakan perlawanan radikal. Ini adalah persoalan rumit karena kita tidak mungkin mengatur pikiran orang seperti yang kita inginkan.

SBY tidak perlu ikut-ikutan memproduksi created terrorism dengan klaim dirinya merasa diancam. Kemudian, muncullah drama penangkapan yang sering terjadi saat kunjungan SBY ke daerah. Masyarakat sudah semakin kritis membaca situasi. Isu SBY sebagai sasaran terorisme jelas dibuat-buat karena SBY bukanlah musuh Islam. Tapi, akan menjadi kenyataan bila cretaed terrorism ini bukannya dihentikan tapi malah diproduksi terus-menerus dengan ketegaannya mengorbankan orang-orang sipil, bahkan seorang ulama renta seperti Ustadz Ba’asyir yang sudah jelas-jelas diputuskan oleh pengadilan tidak terbukti bersalah!! Siapa lagi yang akan dikorbankan setelah orang tua itu? Siapkah menanggung dosa yang amat besar di akhirat kelak yang demi sebuah kekuasaan bukannya melindungi malah mengorbankan rakyat sipil dan memerintah dengan tidak adil?[]

Written by Moeflich

13/01/2011 at 3:47 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: