Moeflich Hasbullah: Antologi Pemikiran

Naifisme di Indonesia

with one comment

Moeflich Hasbullah

a

Selain faham modernisme, tradisionalisme, liberalisme, inklusifisme dan seterusnya, orang Indonesia pun diam-diam banyak menganut faham naifisme. Naifisme adalah perilaku naif atau sikap ironis yang dianut tanpa sadar oleh orang Indonesia, dari kalangan masyarakat awam hingga para profesor di perguruan tinggi. Perilaku naif ini banyak sekali wujud dan bentuknya dalam kehidupan. Disini saya hanya mengambil contoh-contoh naifisme dalam penulisan nama diri:

Pertama, kebiasaan mencantumkan atau menuliskan gelar haji sebelum nama diri: H. Ahmad, H. Hasan, Dr. H. Sastra Subrata, Prof. Dr. H. Abdul Gejul dan seterusnya. Ini naif karena gelar hajinya saja yang dicantumkan, sementara shalat, zakat dan puasanya tidak, padahal semuanya rukun Islam. Mengapa harus hajinya saja? Ada yang berusaha mengajukan alasan historis, tradisi dan pengorbanan. Lho, memangnya ada ibadah yang tidak memerlukan pengorbanan? Apapun alasannya, itu sikap naif. Ada yang bila gelar hajinya itu tidak dicantumkan merasa tidak lengkap, tidak dihargai, bahkan ada yang tersinggung dan marah. Maluku ada di Indonesia, tapi malumu dimana?

Kedua, mengakui, membenarkan dan menuliskan sebutan ulama, kiayi dan ustadz sebelum nama diri. Misalnya, menuliskan sendiri atau merestui kata “KH.,” “Ustadz,” di depan nama dirinya karena merasa ahli agama atau tukang ceramah. Gelar-gelar itu adalah sebutan dan pengakuan masyarakat pada kita bukan sebutan atau pengakuan diri. Kalau oleh orang lain tak apa lah, tapi oleh diri sendiri adalah naif. Sudah ketemu malumu?

Ketiga, kebiasaan memanggil jabatan seseorang: Pak Presiden, Pak Menteri, Pak Gubernur, Pak Bupati, Pak Camat, Pak Rektor, Pak Dekan dan seterusnya. Padahal, itu semua bukan nama, tapi jabatan yang bisa berubah-rubah. Nama itu identitas diri yang diberikan sejak lahir. Yang benar, kalau mau menyebut “Pak,” namanya yang disebut bukan jabatannya: Pak Ahmad, Pak Agus, Pak Abdul, Pak Asep, Pak Broto dan seterunsya. Jadi, dalam rapat tidak ada ungkapan: “Pak Menteri selamat datang!” Atau, “Pak Rektor yang kami hormati.” Atau, “Pak Dekan silahkan duduk.” Yang kita persilahkan itu orang bukan jabatan. Masak jabatan bisa berjalan? Yang bener aja!

Keempat, sebutan “istri” dan “anak” sebelum jabatan-jabatan seseorang: Istri presiden, anak menteri, istri gubernur, anak bupati, anak jenderal, istri rektor, anak direktur dan seterusnya. Padahal kita tahu, jabatan itu tidak punya istri atau anak. Yang punya anak adalah Pak Ahmadnya, Pak Abdulnya, Pak Asepnya, Pak Sostronya. Kebiasaan salah ini dipelihara oleh semua unsur masyarakat. Tradisi ini memang sebuah kesalahan besar karena, dampak buruknya, anak” atau “istri” pejabat sering memiliki fasilitas-fasilitas dan privilese seperti yang dimiliki bapaknya atau suaminya sebagai pejabat seperti penggunaan fasilitas dinas, prestise dan penghormatan yang tidak ada hubungannya dengan keluarganya. Istri pejabat atau anak pejabat dihormati berlebih karena jabatan bapaknya. Penyelewengan jabatan seperti ini sejak 1.400 tahun yang lalu, yaitu zaman Umar bin Khattab, sudah dihapuskan! Ingat kisah “anak gubernur” Syam yang sewenang-wenang pada temannya karena merasa anak gubernur, lalu oleh Umar dihukum dengan diperintahkan agar sang putra gubernur itu diinjak pipinya di atas tanah oleh seorang budak hitam. Islam membenci perbudakan yang disisakan oleh zaman jahiliyah, tapi oleh kita, zaman jahiliyah itu dihidupkan lagi!

Kelima, kebiasaan di lingkungan perguruan tinggi memanggil “Profesor” pada seorang dosen yang sudah mencapai pangkat profesor. UU No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen menyebutkan: “Guru besar atau profesor yang selanjutnya disebut profesor adalah jabatan fungsional tertinggi bagi dosen yang masih mengajar di lingkungan satuan pendidikan tinggi.” Profesor itu jabatan fungsional alias pangkat, bukan penghargaan atas keahlian ilmu. Kalau panggilan itu dianggap sebagai penghormatan, harusnya kita juga konsisten memanggil dosen yang belum profesor dengan sebutan Pembina, Pembina Utama, Lektor, Lektor Kepala dst. Sebutan-sebutan itu adalah jabatan-jabatan fungsional akademik di bawah profesor. Misalnya, “Apa kabar Pembina Utama Agus Sudirja?” Atau “Lektor Kepala Albert Einstein sedang memberikan kuliah tentang Fisika kuantum.” “Pak Lektor Deni Suhadma sedang berdiskusi dengan mahasiswa.” Harusnya begitu. Panggilan profesor sebagai penghormatan mungkin berdasarkan kesan bahwa profesor itu orang pinter dan karya ilmiahnya banyak serta diakui dalam memajukan ilmu pengetahuan. Tapi, kenyataannya tidak begitu, banyak mereka yang bergelar profesor di perguruan tinggi, otak dan kemampuannya biasa-biasa aja, karyanya tidak banyak dan kepintarannya pun tidak menonjol. Itu karena profesor pangkat alias menjadi profesor karena nilai kreditnya (kum) sudah mencukupi. Jadi, profesor di Indonesia tidak berhubungan langsung dengan prestas ilmiah.

Keenam, kebiasaan mencantumkan gelar-gelar akademis atau gelar dinas bukan pada tempatnya. Misalnya dalam surat undangan pengajian, rapat RW atau undangan pernikahan: Mengundang atau Turut Mengundang: Drs. Osama bin Laden, Dr. Kandungan, Dr. H. Orang Purba, Prof. Dr. Simanungkalit, Prof. Dr. H. Budi Arja’un, dan seterusnya. Gelar-gelar akademis atau dinas itu seharusnya hanya untuk di kantor atau di kampus saja yang ada kaitan fungsional dengan pekerjaan atau profesi, di masyarakat tidak ada urusannya. Apa urusannya Drs. dalam rapat siskamling RW? Apa hubungannya Dr. dengan pos ronda? Apa kaitannya Prof. dengan pernikahan? Dalam siskamling yang penting adalah begadang bukan doktorandus, dalam pernikahan yang penting itu ijab kabul bukan profesor doktor.

Salah kaprah dan kerancuan ini akan hilang hanya satu hal: self-awaraness (kesadaran diri) dan rasa malu. Sadar diri dan rasa malu adalah ciri kematangan seseorang. Kematangan adalah ciri kedewasaan seseorang. Wallahu ‘alam!!

Written by Moeflich

14/01/2011 at 4:55 pm

Posted in Refleksi

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. Good writing!!!! After reading it, we wish we be better in using our tittles…….

    irman n d

    22/01/2011 at 2:14 am


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: