Moeflich Hasbullah: Antologi Pemikiran

Praktek Korupsi: Wilayah, Prevensi, Eksekusi

leave a comment »

Endang Somalia dan Moeflich Hasbullah
Pikiran Rakyat, 8 Januari 2011

a

Perilaku korupsi sudah mendarah daging dalam tubuh bangsa Indonesia sejak bangsa ini mengalami kemerdekaannya dan lepas dari cekraman kolonialisme. Korupsi telah menjadi penyakit yang menggerogoti dan menghancurkan bangsa ini selama setengah abad lebih. Puncaknya adalah masa pemerintahan Orde Baru. Melalui mekanisme kekuasaan, korupsi disemaikan, ditumbuhsuburkan dan dikulturkan dalam berbagai bidang kehidupan sampai akhirnya menjadi mentalitas bangsa yang kemudian meruntuhkan rezim Orde Baru itu sendiri. Korupsi nyaris sempurna terjadi pada setiap lapisan dan kelompok sosial di Indonesia. Inilah yang membuat korupsi di negeri ini sulit diberantas.

Lima Jenis Praktek Korupsi

Praktek korupsi muncul didasari lemahnya komitmen moral dan ingin cepat kaya secara cepat dan mudah. Pribadi-pribadi seperti ini tersebar di berbagai institusi, organisasi, kepemimpinan dan kelompok sosial, tak terkecuali para penegak hukum. Pemberantasan hukum lemah karena para penegak dan lembaga hukum juga korup. Sementara para pejabat pemerintah tidak punya wibawa moral karena mereka sendiri banyak yang terlibat.

Uraian sosiologi korupsi ini mengurai wilayah-wilayah dan jenis-jenis korupsi untuk memperjelas sosok, wilayah, pencegahan dan penanggulangannya. Wilayah-wilayah ini akan memperjelas dimana tumbuhnya korupsi dan bagaimana pencegahannya. Ada lima jenis wilayah dan praktek korupsi yang harus diwaspadai oleh semua unsur bangsa: corruption by need, corruption by gate, corruption by lead, corruption by read dan corruption by meat. Kelima praktek korupsi ini esensinya sama yaitu penyelewengan, penyalahgunaan dan penguasaan hak milik negara/umum untuk kepentingan pribadi, tetapi penyebab, wilayah dan proses prakteknya berbeda-beda.

Pertama, corruption by need. Korupsi ini dilakukan karena keterpaksaan untuk memenuhi kebutuhan dasar. Ini adalah jenis korupsi terendah yang paling umum dilakukan. Semua orang Indonesia yang pernah bekerja di lembaga/organisasi diduga pernah melakukannya. Corruption by need dilakukan karena dianggap wajar dan tidak melanggar. Misalnya, memakai telepon kantor, komputer, mobil dinas dan fasilitas kantor lainnya untuk keperluan pribadi. Corruption by need juga dilakukan untuk memenuhi kebutuhan mendesak menyangkut pemenuhan kebutuhan dasar hidup, bukan mencari lebih, kekayaan atau menumpuk harta. Misalnya, guru terpaksa memakai uang sekolah untuk membayar kredit rumahnya yang nunggak. PNS golongan bawah memakai kendaraan kantor untuk urusan keluarganya. Mahasiswa menggunakan dana organisasi untuk bayar kost, utang atau bayar uang kuliah. Supir atau tukang ojek menilep setoran untuk beli susu anaknya. Corruption by need ini adalah jenis korupsi yang dimaklumi tapi tetap bukan untuk dibenarkan. Kisah moral indah untuk kasus ini adalah ketika Khalifah Umar bin Abdul Aziz dalam Dinasti Abbasiyah sedang bekerja di kantor istananya pada malam hari dengan diterangi cahaya lilin. Lilin itu dimatikan begitu anaknya datang ke ruangan sang khalifah. “Mengapa Ayahanda mematikan lilin itu?” tanya sang anak keheranan. “Lilin itu milik negara, sedang engkau datang kesini untuk urusan keluarga,” kata sang khalifah mantap.

Kedua, corruption by gate. Korupsi jenis ini dilakukan karena adanya kesempatan. Pada awalnya tidak berniat dan merencanakan, tapi situasi mempersilahkannya (bahkan mengharuskan). Misalnya, di sebuah kantor, seseorang tiba-tiba disodorkan kwitansi untuk ditandatangani sebagai jatah proyek. Ia menjadi serba salah, diambil uang siluman, tidak diambil akan raib disikat rekannya. Akhirnya diambil juga. Korupsi ini terjadi terutama karena lemahnya pengawasan yang mengakibatkan kesempatan menjadi terbuka. Seseorang yang sebelumnya dikenal bersih tapi jika kontrol lingkungannya lemah menjadi terbuka melakukan korupsi setelah ia menemukan kesempatan di depan mata. Seperti Gayus Tambunan, kesempatan menjadi terbuka ketika masuk pada lembaga yang basah dan kotor.

Ketiga, corruption by lead. Korupsi jenis ini paling mudah ditemukan. Jabatan pemimpin paling rentan melakukan korupsi karena memiliki kewenangan. Lebih parahnya, menciptakan situasi untuk melakukan penyimpangan dengan berbagai cara yang ditunjang oleh posisinya sebagai pemimpin, baik di level tertinggi maupun pimpinan tingkat rendah. Mayoritas pemimpin lembaga negara di negeri ini, dari yang tertinggi hingga terendah, ditengarai pernah melakukan corruption by lead. Persoalannya, ada yang terungkap, ada yang tidak. Petugas pengawasan dan seorang pemimpin sering bekerjasama untuk melancarkan dan memuluskan praktek korupsi yang saling menguntungkan.

Keempat, corruption by read. Korupsi jenis ini dilakukan karena membaca situasi, yaitu melihat orang lain aman melakukannya. Awalnya tidak berniat, tapi ketika tergoda, ia melihat yang lain pun aman. Terdoronglah ia melakukan hal yang sama. Di wilayah ini, orang dikondisikan oleh situasi untuk berbuat korupsi karena praktek-praktek korupsi yang sebelumnya pun dianggapnya aman dan tidak terungkap.

Kelima, corruption by meat. Korupsi jenis ini paling kotor karena sudah mendarah daging dan menjadi mentalitas. Korupsi ini diniatkan, direncanakan dan dilakukan dengan berbagai cara untuk menjadi kaya dan bergelimang harta kekayaan. Ini adalah koruptor yang tega memakan daging saudaranya sendiri. Jabatan yang didudukinya bukan dihayati sebagai tugas dan tanggung jawab melainkan sarana untuk meraup banyak keuntungan dan meningkatkan kekayaan. Kesadaran sukses dari jabatannya adalah rumah mewah, barang-barang mahal, mobil lux dan seterusnya. Ini adalah bentuk korupsi yang paling jahat dan rakus yang harus dihukum seberat-beratnya.

Prevensi dan Eksekusi

Berdasarkan lima wilayah korupsi ini, maka strategi, fokus dan wilayah pemberantasannya juga harus berbeda. Strategi menghadapi corruption by need ada tiga: pertama, keteladanan atasan/pimpinan, peningkatan kesadaran karyawan (self-consciousness) dan jaminan kesejahteraan. Ketiganya harus dibentuk bersamaan. Salah satunya pincang akan tetap menumbuhkan korupsi kecil-kecilan.

Strategi yang harus lebih dikembangkan pada wilayah corruption by gate adalah lebih kepada sistem. Sebuah lembaga harus menciptakan sistem untuk meminimalisir kesempatan agar orang tidak memiliki peluang berbuat korupsi. Sistem itu dibangun melalui kontrol yang berfungsi, pengawasan semua pihak, manajemen yang efektif, administrasi yang rapih dan pemimpin yang tegas.

Prevensi dan penanggulangan wilayah corruption by lead harus lebih difokuskan pada fit and proper test (FPT). Ini berkaitan dengan track record sebelum dipilih jadi pemimpin. FPT akan membongkar latar belakang integritas, kesadaran moral dan prestasi seorang calon pemimpin. Dengan kata lain, FPT akan menggagalkan calon pemimpin yang punya catatan moral buruk. Bila FPT dijalankan secara ketat, corruption by lead akan tercegah oleh integritasnya yang teruji.

Keteguhan diri (self-firmness) agar tidak mudah terpengaruh oleh lingkungan buruk harus dikembangkan untuk prevensi corruption by read. Tetapi agar keteguhan sikap ini tumbuh dengan baik, harus diciptakan lingkungan yang baik pula. Lingkungan itu adalah hukuman tegas terhadap segala bentuk penyelewengan dan penyalahgunaan yang terjadi. Hukuman yang tegas akan berfungsi sebagai warning sehingga menimbulkan rasa gentar orang untuk tidak coba-coba dan ikut-ikutan melakukan praktek corruption by read. Tidak ada ruang untuk “membaca.” Hukum yang tidak tegas, akan menyuburkan tindakan-tindakan korupsi jenis ini.

Prevensi dan solusi untuk corruption by meat adalah hukuman setegas-tegasnya seperti hukuman mati. Tidak boleh ada ampun pada korupsi yang diniatkan dan direncanakan. Hukuman mati akan berfungsi efektif untuk memiriskan mereka yang benar-benar akan mencari kekayaan dari jabatannya.[]

No. Wilayah Korupsi Penanggulangan
Unsur-unsur Utama Prevensi Eksekusi
1. Corruption by need Teladan atasan, penyadaran individu, peningkatan kesejahetraan Hukuman sesuai dengan level dan bobot korupsi
2. Corruption by gate Sistem kontrol yang ketat
3. Corruption by lead Track Record dan Fit and Proper Test
4. Corruption by read Pembinaan untuk keteguhan diri (self firmness)
5. Corruption by meat Hukuman mati


Written by Moeflich

22/01/2011 at 5:59 pm

Posted in Korupsi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: