Perlukah Kritis dalam Kebenaran?

Oleh Moeflich H. Hart

Ketika sedang berdiskusi soal sikap kritis hubungannya dengan kebenaran yang ditemukan, saya jadi teringat pada apa yang saya alami. Ada sebuah episode dalam lembaran hidup saya tahun 2000, atau 19 tahun lalu, yang saya rasa perlu berbagi kepada siapa saja karena bisa dialami oleh semua orang, yaitu soal truth quest, pencarian kebenaran. Ceritanya, dulu saya punya teman. Dia sahabat biasa saya sejak mahasiswa sampai menjadi staf pengajar di kampus tempat asal kuliah. Tapi, “secara tiba-tiba” saya menunjukkan diri menjadi muridnya, sangat hormat dan taat kepadanya. Ini tentu mengagetkan sebagian orang. Sebuah keganjilan. Bagaimana mungkin seseorang menjadi murid kawannya? Soal jadi murid mungkin masih wajar, tapi ini dengan begitu hormat dan taat padahal sebagai sahabat kemampuannya satu level. Apalagi, yang lebih membuat kaget, sebagai orang yang pernah menempuh studi di luar negeri, saya semestinya menunjukkan sikap kritis, bukan taat. Dalam pandangan orang-orang, mempercayai apalagi menjadi murid orang yang selevel, itu jelas kehilangan daya kritis, melemah menjadi pentaat dan pengagum. Komentar-komentar dan kesan merendahkan pun muncul. Saya sendiri tidak pernah meresponnya, membiarkan segalanya berlalu sesuai berjalannya waktu sebab ini menyangkut pengalaman subyektif. Dengan pede, saya mengikuti do’a Nabi saja: “Allahummaghfir lahum, fainnahum la ya’lamun” (Ya Allah, ampunilah mereka karena mereka sesungguhnya tidak tahu!) Itu saja.

Apa yang mereka tidak tahu? (atau yang mereka tidak mau tahu?) Tentu saja ketaatan saya ada alasannya dan bukan tiba-tiba. Yang saya lihat dan alami sendiri adalah, setelah mengalami sakit parah selama 7 tahun, teman saya yang sebelumnya badannya besar jadi kurus, lumpuh dan matanya menjadi buta karena penyakit diabetes yang menerjangnya bertahun-tahun. Tapi, dalam kelumpuhan dan kebutaannya itu, ini yang mengagetkan saya dan ini yang tidak diketahui orang, tiba-tiba ia selalu hanya bicara kebenaran, dzauq-nya menjadi peka dan pembacaan spiritualnya tajam, berusaha membersihkan diri dan memelihara diri kesalahan-kesalahan kecil, kemudian mengajarkan ilmu luar biasa yang diterimanya dalam keadaan buta, yang tidak dimiliki sebelumnya, tidak pernah dimiliki orang lain dan belum pernah saya dengar dan temukan bahkan dari ulama-ulama besar. Singkat kata, ia menjadi guru spiritual yang penuh wibawa. Bagi saya, sungguh ini anugrah besar. Saya merasa menemukan apa yang saya cari.

Sahabat saya itu, “tiba-tiba” bicaranya selalu tentang Allah, Al-Qu’ran, Rasulullah, kebenaran, nasihat dan bimbingan kehidupan. Pengalaman spiritualnya, ilmu, nasehat dan ajarannya tidak ada yang menyimpang dari syari’at agama. Kecerdasannya pun menjadi berlipat ganda. “Daya kritis” yang saya miliki, yang pernah saya lontarkan, semuanya tumbang dihadapannya. Dan tidak hanya saya, teman lain yang menjadi muridnya yang semuanya dosen, juga sama. Kita yang sering berkumpul dan bertanya, menggugat, kritis, semua tumbang dihadapannya. Dan ini, tidak ada yang tahu dan mengalami, kecuali yang sering kumpul dan merasakannya sendiri.

Tapi, terus terang, saya agak terpengaruh juga. Sedikit. Ketika saya keluhkan komentar orang-orang kepada guru baru saya ini, bahwa saya melemah dan tidak memiliki daya kritis lagi, beliau menjawab dengan jawaban yang tidak pernah saya lupakan seumur hidup.“Jawab pertanyaan ini Muf. Apakah Umar bin Khattab yang dikenal cerdas itu kritis kepada Rasulullah? Apakah ketika Rasulullah menerangkan wahyu, memberikan nasihat dan bimbingan agama kepada Umar yang garang itu, Umar bersikap kritis? Apakah Umar membantah Muhammad dengan argumen-argumen?” Saya tertegun. Jawaban itu saya rasakan benar sekali. Semakin kuat kesetiaan saya.

 “Tidak kan? Yang terjadi setelah Umar masuk Islam adalah menjadi sangat taat pada Muhammad bahkan menyerahkan jiwa raganya untuk membela Muhammad, untuk keyakinan yang dianutnya. Ingat tidak, apa yang dikatakan Umar yang rasional dan cerdas itu, saat ia mendengar Muhammad wafat? “Barangsiapa siapa mengatakan Muhammad telah mati akan kutebas batang lehernya!” Apa artinya ini? Kecintaannya pada Muhammad telah mengalahkan rasionalitasnya. Apa ini salah? Bukan soal salah dan benar, tapi begitulah kalau cinta sudah memenuhi hati seseorang. Seperti kita, Umar menemukan dan merasakan kebenaran pada diri Muhammad. Kecerdasan Umar itu takluk dihadapan kebenaran, kelurusan hati dan kemuliaan akhlak Muhammad.

 Begitu juga ente. Ente menemukan kebenaran pada apa yang saya katakan, pada apa yang saya jelaskan. Apa masalahnya? Pada sesuatu yang dirasakan benar oleh hati kita, atau ketika kebenaran menyentuh hati kita, justru sikap yang harus dimunculkan adalah hormat dan taat. Siapapun dia. Justru sikap ente sudah benar. Orang menganggap ente aneh dengan alasan tidak kritis, karena dia tidak merasakannya. Itu saja. Orang yang masih membantah dengan sikap, dengan argumen-argumen pada sesuatu yang dirasakannya benar, adalah orang yang hatinya mati. Itulah qalbun mayit!”

Penjelasan itu sangat berbekas, tidak sanggup saya lupakan. Benar, kalau “kehebatan kita, kegagahan kita, kebenaran kita” dibuktikan oleh daya kritis, argumen-argumen otak dan fikiran rasional, kenapa kita semua tidak pernah mengkritisi Muhammad? Apakah benar ia seorang Nabi? Jangan-jangan bukan. Mengapa kita harus percaya perkataan ulama dan guru-guru kita bahwa Muhammad seorang Nabi padahal kita tidak pernah melihatnya? Mengapa kita tidak pernah meragukannya? Mengapa kita tidak pernah membantah ajaran-ajaran Muhammad, malah selalu mengutipnya tanpa daya kritis? Bukankah mudah percaya, nurut dan taat itu menunjukkan kelemahan diri? Mengapa kita yang pinter, cerdas, rasional, orang sekolahan, kuliah di perguruan tinggi, harus taat bahkan membela dengan jiwa dan raga seseorang yang kita tidak pernah kenal dan bertemu?

Adalah sudah sifat manusia, tidak akan bersikap kritis pada seseorang yang sangat kita hormati, yang telah mengajarkan kebenaran pada kita, yang telah membimbing hidup kita, apalagi ia sangat berwibawa karena kebersihan hatinya, kejujurannya, kelurusan akhlaknya dan sebagainya. Seperti santri pada kiayinya, murid pada gurunya atau pada ulama yang dikagumi dan dihormatinya, yang ada adalah sikap hormat dan taat, dan seharusnya memang begitu. Sederhananya, orang bersih dan lurus itu, apalagi ilmunya luas, bukan untuk diajak berbantah-bantahan, tapi untuk diikuti dan ditaati.

Jadi, apanya yang aneh? Dengan guru saya itu, saya bertemu setiap hari, berdialog setiap hari, berguru setiap malam, mendengarkan uraian ilmunya setiap hari. Ia selalu menegur dan meluruskan kesalahan-kesalahan saya setiap hari. Ketika saya menghormati dan mentaatinya dikatakan aneh, tidak kritis. Kita tidak pernah berfikir bahwa kita yang tidak pernah bertemu Muhammad, jaraknya 1400 tahun, selalu membenarkan, hormat dan tidak sedikitpun meragukan kenabiannya. Kita tidak pernah merasa aneh dengan diri kita. Kita tidak pernah sadar diri kita “kehilangan daya kritis.” Jawaban sederhananya pasti adalah: “Jangan disamakan dong. Muhammad itu kan Nabi, kita tidak meragukannya sedikitpun, kita meyakininya 100%. Dia itu utusan Allah.” Lho? “Mengapa kita percaya dia itu Nabi? Apa dasarnya? Kita tahu Muhammad ada, pernah hidup dan katanya seorang Nabi, semuanya dari orang lain. Mengapa tidak pernah meragukannya? Bukankah bertemu dan melihat pun tidak pernah? Mengapa kita kehilangan daya kritis?”

Mungkin seseorang masih menjawab: “Karena Muhammad itu kenabiannya disebutkan dalam Al-Qur’an, diakui Tuhan.” Lho? Mengapa kita percaya pada kitab suci yang bukan kitab ilmiah? Al-Qur’an itu firman Tuhan, itukan kata orang. Kita tidak pernah mendengar dan menyaksikannya langsung ayat Qur’an turun kepada Muhammad. Akhirnya, jawabannya pasti akan mentok pada soal keimanan. Nah, seperti yang saya alami, itulah soal keimanan. Itulah wilayah subyektif yang sulit di-share pada orang kecuali sama-sama menyaksikannya, atau kita bisa meyakinkannya pada orang.

Menjawab keimanan dengan argumen adalah mismatch, tidak nyambung, salah kaprah. Iman itu soal hati. Selama wilayahnya adalah argumen, kita masih sangat mudah untuk terus mengejarnya dengan pertanyaan mengapa dan mengapa. Para sahabat sebenarnya bukan tidak kritis pada Nabi, tapi kritisitas mereka tumbang di depan Muhammad. Selain tidak ada yang bisa mengalahkan kecerdasan Muhammad, orang akan takluk oleh kebenaran yang dibawa dan ditunjukkannya. Dihadapan beliau tidak ada ruang untuk kritis, yang ada adalah ketaatan (sami’na wa atha’na). Kritis kepada Muhammad adalah salah (misplace). Ia mengajarkan kebenaran yang mengalahkan kecerdasan.

Tentang Kritis

Kritis adalah daya fikir yang selalu menemukan kelemahan atau kekurangan pada sesuatu kemudian menggugat atau mempertanyakannya. Semakin kritis seseorang semakin banyak ia menemukan kelemahan dan kekurangan pada sesuatu (orang, realitas, ilmu, teori dsb) yang dipandang orang sudan benar. Apa tujuan kritis? Kritisitas diperlukan untuk melengkapi dan menyempurnakan kekurangan sampai menemukan kebenaran sejati. Selama kebenaran puncak belum ditemukan, kritis terus diperlukan. Tetapi, ketika seseorang sudah menemukan kebenaran yang dirasakannya pasti, yang diyakini bulat, selesailah tugas kritis. Kritis tidak diperlukan lagi. Berganti ia menjadi hormat dan ketaatan.

Adalah keliru saat merasakan dan menemukan kebenaran, kita masih bersikap kritis. Buktinya, ketika seorang non-Muslim yang tadinya kritis pada agama Islam atau kepada Nabi Muhammad lalu masuk Islam karena kesadarannya, masihkan ia kritis pada keyakinan yang telah dirasakannya? Adakah ia mengkritisi Allah, Muhammad dan Al-Qur’an? Tidak pernah terjadi. Yang terjadi adalah hatinya luluhtantak menyerahkan segala kepasrahan dan ketaatannya kepada kebenaran puncak yang ditemukannya.

Kesimpulannya, kritis diperlukan dalam wacana keilmuan dan dalam pencarian kebenaran yang belum selesai. Ketika kebenaran puncak sudah ditemukan dan dirasakan oleh hati kita, seperti merasakan benarnya Allah, Muhammad, Islam, Al-Qur’an, atau guru yang Anda imani, maka kritis sudah tamat dan berubahlah ia menjadi keyakinan dan keimanan. Seharusnya memang seperti itu. Tanpa disadari, kita pun sebenarnya semuanya sebetulnya seperti itu. Tidak ada lagi sikap kritis dalam kebenaran. Bila kita masih kritis kepada apa saja yang kita temukan, itu bagus, tapi artinya kita masih belum menemukan kebenaran. Kita masih terlunta-lunta dalam ketidakyakinan, kebimbangan dan ketiadaan pegangan. Wallahu’alam.[]

 

Buku Sejarah Sosial Intelektual Islam Indonesia

Penulis: Moeflich Hasbullah 
Penerbit Pustaka Setia, April 2012, 392 hal.
Pengantar: Dr. Yudi Latif.
Harga Rp. 50.000.

*

Buku ini adalah sebuah kajian tentang Islam Indonesia dengan penghampiran dari berbagai sisi: sejarah, sosial, politik, psikologis dan budaya. Dengan melihat pengalaman sejarahnya yang khas, buku ini dimaksudkan untuk memahami sosok dan wajah Islam Indonesia yang berbeda dari kawasan-kawasan lain di dunia Islam. Tulisan-tulisan didalamnya berupaya mendiskusikan beberapa tema tentang Islam Indonesia dalam ragam persoalan dan perspektifnya. Karenanya, pembahasan buku ini bersifat tematis.

Sebagai kajian tematis, tulisan-tulisan dalam buku ini variatif. Beberapa tulisan bersifat deskriptif dan informatif, sebagiannya merupakan gagasan orisinal dan sebagian yang lain berusaha mengkritisi persoalan-persoalan yang menjadi public discourse dalam Islam Indonesia seperti tentang proses Islamisasi, peranan ulama dalam sejarah, kelas menengah Muslim, sekularisasi, pluralisme, terorisme, Islam liberal, pornografi dan lain-lain dengan satu tema inti: Islam Indonesia. Mudah-mudahan perspektif dalam buku ini bisa diterima sebagai sesuatu yang absah dan, dan lebih dari itu, diharapkan mewakili pandangan yang tidak ditemukan pada tulisan-tulisan lain yang berserakan dalam samudera diskursus Islam Indonesia. Continue reading

Agama Sikap Mental

Oleh Moeflich Hasbullah
Opini Tribun Jabar, 7 April 2011

a

Dalam kehidupan manusia, tidak ada agama murni, yang ada adalah agama sifat. Dalam fikiran manusia, tidak ada Islam, Kristen, Hindu, Budha yang asli, yang ada adalah agama yang sudah mengalami penyifatan: Islam tradisional, Islam modern, Kristen Katolik, Kristen Protestan, Budha Mahayana, Hindu Bali dan seterusnya. Ortodoksi menjadi sifat ketika sekelompok orang mengklaim dirinya Islam Al-Qur’an dan Sunah. Demikian juga dengan Islam penjaga warisan ulama. Organisasi dan madzhab menjadi sifat ketika sudah menjadi identitas dan simbol-simbol kelompok. Ketika agama ditempeli sifat-sifat, saat itu agama menjadi distorsi karena berubah menjadi ekspresi Continue reading

Api Sejarah dan Spirit Pelurusan Sejarah Indonesia

Moeflich Hasbullah
Presentasi pada Diskusi Buku Api Sejarah-2 karya Ahmad Mansur Suryanegara
di Selasar Campus Center Barat ITB, 11 Ramadhan 1432/11 Agustus 2011.

a

Sebagai warisan dari konflik-konflik politik yang berlangsung sejak zaman kolonial, Islam Indonesia adalah sebuah entitas umat yang selalu berhadapan dengan kekuatan negara. Negara kolonial mempertahankan kekuasaan koloninya dengan berusaha meminimalisir pengaruh kekuatan Islam, sementara Islam sendiri menjadi “pembangkang birokrasi” dan inspirasi untuk melakukan perlawanan. Tradisi ini berlanjut hingga zaman Orde Baru yaitu saat pemerintahan Soeharto menempatkan diri sebagai negara yang memusuhi Islam. Perseteruan ini berimbas pada sejarah. Negara ingin menuliskan sejarah Indonesia berdasarkan versinya sendiri dengan perasaan sama dengan kaum kolonial: meminimalisir peranan Islam dan lebih menonjolkan peranannya sendirinya (Jawanisme abangan). Kalangan Islam menuntut sejarah ditulis apa adanya (history as it is) sesuai fakta yang ditemukam. Ketika sejarah bangsa ditulis dengan tidak diamini umat Islam, polemik sejarah pun terjadi. Muncullah istilah ‘sejarawan istana’ sebagai sebutan pada sejarawan yang menulis untuk kepentingan penguasa. Dalam banyak episode, sejarah Islam Indonesia tidak ditulis penuh rekayasa, mengalami distorsi dan pembelokkan. Sejak tahun 1960-an, sudah muncul gugatan-gugatan terhadap sejarah Indonesia dari beberapa kalangan, yang paling kuat muncul dari kalangan Muslim. Beberapa episode sejarah Islam yang dipersoalkan itu misalnya sejarah masuknya Islam ke Indonesia,[1] peranan etnis Cina dalam Islamisasi,[2] gerakan awal kebangkitan nasional,[3] peranan Islam (ulama) dalam kemerdekaan, kolonialisasi (Eropa-sentris) dalam penulisan sejarah,[4] deislamisasi dan hinduisasi kebudayaan Indonesia.[5] Continue reading

Rumus 3D dalam Menyembuhkan Penderitaan Jiwa

Moeflich Hasbullah

a

Penderitaan jiwa, berat maupun ringan, sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia di zaman modern ini. Sadar atau tak sadar, banyak orang merasakan penderitaan dan rintihan dalam batinnya. Terhibur dalam keramaian tapi gelisah dalam kesendirian, menjerit dalam kesunyian, menemukan orang yang tepat untuk curhat sulit, orang tua tidak mengerti. Problem ini dirasakan termasuk oleh orang-orang yang taat menjalankan kehidupan ritual agamanya sehari-hari. Dalam keramaian seperti tak ada masalah, ceria, riang dan gembira, tapi dalam kesendirian dan kesunyian, batinnya menjerit karena masalah tak hilang-hilang, beban perasaan terasa berat, stres oleh pekerjaan yang menumpuk, jodoh tak kunjung datang, uang dan materi berlimpah tapi tak ada ketenangan hidup, makanan banyak tapi tak ada kenikmatan dst. Akhirnya, tak betah di rumah, asing dengan diri sendiri, hidup merasa tak bermakna. Kebahagiaan tidak tahu entah ada dimana. Continue reading

Praktek Korupsi: Wilayah, Prevensi, Eksekusi

Endang Somalia dan Moeflich Hasbullah
Pikiran Rakyat, 8 Januari 2011

a

Perilaku korupsi sudah mendarah daging dalam tubuh bangsa Indonesia sejak bangsa ini mengalami kemerdekaannya dan lepas dari cekraman kolonialisme. Korupsi telah menjadi penyakit yang menggerogoti dan menghancurkan bangsa ini selama setengah abad lebih. Puncaknya adalah masa pemerintahan Orde Baru. Melalui mekanisme kekuasaan, korupsi disemaikan, ditumbuhsuburkan dan dikulturkan dalam berbagai bidang kehidupan sampai akhirnya menjadi mentalitas bangsa yang kemudian meruntuhkan rezim Orde Baru itu sendiri. Korupsi nyaris sempurna terjadi pada setiap lapisan dan kelompok sosial di Indonesia. Inilah yang membuat korupsi di negeri ini sulit diberantas. Continue reading

Korupsi sebagai Kelemahan Jiwa

Moeflich Hasbullah
Republika, 12 Juli 2010

a

Munculnya era Reformasi yang menjanjikan perubahan dalam berbagai aspek kehidupan ternyata tidak banyak mewujudkan harapan, terutama dalam hal mengatasi penyakit yang paling kronis diidap bangsa Indonesia, yaitu korupsi. Ketimbang memberantas dan berkurang, era Reformasi malah membuka selubung-selubung mafia korupsi yang parah. Lebih parah lagi, bila zaman Orde Baru korupsi dilakukan oleh penguasa sentral, korupsi pada era Reformasi dilakukan oleh mafia para pejabat antar departemen. Korupsi sudah mendarah daging dalam tubuh bangsa Indonesia di berbagai lapisan sosial. Mulai dari pejabat tinggi di institusi-institusi negara, pengusaha dalam gerak bisnisnya, hingga rakyat kecil pada kehidupan sehari-hari. Pejabat negara, individu, atau mafia menilap uang rakyat di tingkat negara dengan menyelewengkan aturan dan jabatan atau melakukan mark up dan laporan untuk kepentingan diri serta mafianya. Continue reading