Proporsionalisasi Politik Kampus Mahasiswa

Moeflich Hasbullah
Pikiran Rakyat, 15 Nopember 2009

a

Keluarga Mahasiswa (KM) ITB akan menyelenggarakan debat kandidat Rektor ITB pada 21 November 2009 di kampusnya. Penyelenggaraan itu sebagai bahan pertimbangan dalam memilih Rektor ITB yang baru masa kepemimpinan 2010-2014. Di beberapa perguruan lain seperti Unpad, UIN, UPI, IPB, keterlibatan mahasiswa dalam penentuan kepemimpinan kampus seperti itu juga terjadi dalam berbagai bentuknya termasuk penolakan kebijakan dan aturan yang diekspresikan melalui demonstrasi. Kenyataan ini menggelitik pikiran saya, perlukah mahasiswa terlibat dalam proses politik penentuan kepemimpinan kampus? Keterlibatan mahasiswa dalam proses penentuan pimpinan kampus (rektor, dekan) tidak terlepas dari konteks sejarah. Sebagai pendekar keadilan, mahasiswa turun berdemonstrasi ke jalan memprotes kekuasaan negara yang sewenang-wenang. Kasus demi kasus protes mahasiswa meletus, sejak peristiwa Malapetaka 15 Januari (Malari) 1974 hingga penggulingan kekuasaan Soeharto Mei 2008 yang melahirkan era reformasi. Continue reading

Gerakan Politik Mahasiswa Sebagai Moral Force

Moeflich Hasbullah
Presentasi dalam ‘Seminar Nasional tentang Partisipasi Politik Kampus:
Demokratisasi atau Politisasi Mahasiswa?,’
HIMA-SPI Fakultas Adab IAIN Sunan Gunung Djati,
Bandung 17 Februari 2004.

a

Mahasiswa adalah sebuah lapisan masyarakat terdidik yang menikmati kesempatan mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Sesuai dengan perkembangan usianya yang secara emosional sedang bergejolak menuju kematangan dan berproses menemukan jatidiri, dan sebagai sebuah lapisan masyarakat yang belum banyak dicemari kepentingan-kepentingan praktis dan pragmatis, alam fikiran mahasiswa beorientasi pada nilai-nilai ideal dan kebenaran. Karena orientasi idealis dan pembelaannya pada kebenaran, sebagian ahli memasukkannya ke dalam kelompok cendikiawan (Arief Budiman 1983: 150) yang  menurut Julien Benda “whose activity not the pursuit of practical aims,” atau seperti kata Lewis Coser, ”tidak pernah puas dengan kenyataan sebagaimana adanya … mereka mempertanyakan kebenaran yang berlaku pada zamannya dan mencari kebenaran yang lebih tinggi dan lebih luas” Continue reading