Fundamentalisme Liberal: Sebuah Ironi

Moeflich Hasbullah

a

Perseteruan sengit antara dua kelompok fundamentalis hadir mewarnai wacana baru pemikiran Islam Indonesia kontemporer: ‘fundamentalisme liberal’ dan ‘fundamentalisme literal.’ Fundamentalisme liberal mengelompokkan diri dalam Jaringan Islam Liberal (JIL), sementara fundamentalisme literal diklaimkan atas kelompok-kelompok garis keras dan radikal. Keduanya sama-sama menyuarakan kutub ekstrem pandangan Islam: Islam liberal di satu sisi, Islam radikal di sisi lain. “Islam Ulil Abshar” di satu kutub, “Islam Imam Samudra” di kutub lain. Atau “Islam Gus Dur” di satu kubu, dan “Islam Habib Rizieq” di kubu lain. Keduanya meyakini persepsinya masing-masing sebagai Islam yang benar. Bagi kutub Ulil Abshar dan Jaringan Islam Liberal, suara lantang kelompok Islam radikal dan gerakannya harus dibendung karena itu merusak citra Islam yang damai dan rahmatan lil ‘alamin. Bagi kubu Habib Rizieq, kemaksiatan harus diberantas di muka bumi Indonesia tanpa kompromi sebagai amar makruf nahyi munkar, karena itu kewajiban setiap Muslim, karena hukum impoten, karena pengaturan tempat-tempat hiburan sering dilanggar dan tidak ada sanksi hukum. Atau, bagi kelompok Imam Samudra, bom harus diledakkan untuk orang-orang “kafir” dan para pendukung Barat lainnya yang telah banyak membunuh orang-orang Islam tidak berdosa, bertindak sewenang-wenang atas masyarakat Islam dan bangsa-bangsa Musim sementara dunia Islam lemah dan tak sanggup memberikan perlawanan. Continue reading