Rumus 3D dalam Menyembuhkan Penderitaan Jiwa

Moeflich Hasbullah

a

Penderitaan jiwa, berat maupun ringan, sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia di zaman modern ini. Sadar atau tak sadar, banyak orang merasakan penderitaan dan rintihan dalam batinnya. Terhibur dalam keramaian tapi gelisah dalam kesendirian, menjerit dalam kesunyian, menemukan orang yang tepat untuk curhat sulit, orang tua tidak mengerti. Problem ini dirasakan termasuk oleh orang-orang yang taat menjalankan kehidupan ritual agamanya sehari-hari. Dalam keramaian seperti tak ada masalah, ceria, riang dan gembira, tapi dalam kesendirian dan kesunyian, batinnya menjerit karena masalah tak hilang-hilang, beban perasaan terasa berat, stres oleh pekerjaan yang menumpuk, jodoh tak kunjung datang, uang dan materi berlimpah tapi tak ada ketenangan hidup, makanan banyak tapi tak ada kenikmatan dst. Akhirnya, tak betah di rumah, asing dengan diri sendiri, hidup merasa tak bermakna. Kebahagiaan tidak tahu entah ada dimana. Continue reading

Seni sebagai Ekspresi Spiritualitas

Moeflich Hasbullah
Lampung Post, 22 Mei 1992

a

a

Dalam sebuah kesempatan, seorang ulama bijak yang dikenal luas yaitu Buya Hamka (alm.) konon dihadapkan pada pertanyaan ‘nakal’ seorang pemuda jama’ah pengajiannya: “Buya, bolehkan seseorang memandang gambar atau foto tubuh wanita bugil, semata-mata hanya untuk mentafakkuri kebesaran dan keagungan Tuhan yang ada pada indahnya tubuh wanita tersebut?” Sambil merenung sekilas, karena pertanyaannya diluar dugaan, Buya berfikir. Tak lama ia menjawab: “Boleh.” “Tapi,” segera beliau menegaskan, “semata-semata hanya untuk tujuan itu, tidak lain dari maksud itu. Awas, tidak lain dari itu.” Jawaban seperti Buya tak akan pernah keluar bila beliau tidak mempelajari tasawuf. Apa hubungannya? Sebab dalam tasawuf tidak ada batasan, segala sesuatu bisa menjadi obyek dzikir. Pertanyaan pemuda tersebut menuntut jawaban hakikat bukan syariat (hukum, norma) dan hakikat adalah wilayah atau dunianya tasawuf. Norma atau syariat akan tegas-tegas melarang perbuatan itu sebagai perbuatan haram karena memandangi aurat. Norma tidak berurusan dengan sesuatu di luar formalitas bahwa di luar norma ada jalan menuju Tuhan. Esensi bugilitas tubuh wanita yang ditanyakan adalah keindahan. Nilai keindahan harus dibahas oleh estetika bukan hukum. Continue reading